SDIT Point of View for 2012

Tahun 2012, menjadi tahun yang perdana bagi kami. Tahun 2012, Insya Allah adalah tahun perdana Angkatan Pertama SDIT Al Muhajirin, Jakarta Utara. Terbilang baru, ya. Belum mapan, akan. Belum kelihatan, akan visible suatu hari. Yang pasti, akan ada banyak perubahan di tahun ini. Tentu tidak tahun ini saja. Perubahan selalu terjadi setiap detik.

VISIBLE

Justru karena perubahan itulah, kami meyakini bahwa sesuatu itu harus visible (kelihatan). Murid jelas ada, sarana fisik ada, guru ada, komite ada, orang tua ada, semua terlihat, bahkan pelayanan pun seharusnya visible dan atau feel-able . Karena kalau tidak kelihatan, angan-angan namanya. Impian saja harus jelas. Salah satu hal yang patut terus diperbaiki oleh sekolah adalah visible dalam pelayanan. Salah satunya adalah pelayanan dalam mempersiapkan angkatan demi angkatan menjadi lulusan yang dapat diandalkan.

Semoga pelayanan kami dari segala sisi dapat kami perbaiki dan tingkatkan tanpa henti. Kritikan membangun, usul, solusi, semua itu sejatinya membangun diri kami. Tidak hanya mengandalkan eksternal namun juga kami berjuang secara internal. Kalau perlu semua celah. That’s our 2012 begins!

KERJASAMA

Sering kita mendengar, guru adalah pengganti orang tua di sekolah. Bedanya? Salah satunya adalah, nilai dan penerapannya (satu paket). Kami menyediakan sekolah yang bukan lip service mendidik an sich. Namun kami menyadari benar bahwa kami sedang memberikan TAMBAHAN atau PELENGKAP dasar bagi apa yang ‘sudah’ atau ‘sedang’ ditanamkan di keluarga. Terlepas bagaimanapun lingkungan keluarga, sekolah memang sarana formal/informal untuk mengisi celah itu. Jadi wajar saja sekolah menjadi harapan ‘perubahan sikap anak’.

Paling tidak suport atau dukungan orang tua pada siswa atau anak merupakan hal terbaik yang mereka terima. Dukungan seperti apa? Minimal mengatakan, “Ya, kamu bisa.” Memuji, memberi jalan keluar yang sesuai dengan masalah mereka. Seringkali kendala yang ada antara orang tua dan anak (meski tidak semuanya) adalah di antara mereka sendiri kurang kerjasama, antara anak dan orang tua. So, cobalah lakukan pendekatan yang lebih komunikatif, heart to heart.

Kerjasama lainnya yang tak kalah pentingnya bagi kami adalah ‘kerjasama’ baik dengan Sang Khalik. Kita telah se-visible mungkin untuk mempersiapkan lulusan, mengenalkan medan, teknis dan lainnya, maka kerjasama lainnya adalah persiapan mental. Perlu kami garisbawahi, bahwa kami tidak semata-mata mencari materi, pendidikan kami lebih mengedepankan dua-duanya. Maksudnya, bukan materi orientid. Bukan. Materi itu sarana. Jadi urusan yang penting sebenarnya mental. Setidaknya kita jangan pernah melupakan bagian itu. Bukankah masalah utama kebanyakan kita adalah ketahanan dalam menghadapi masalah? Itu mental, khan? Nah, membina mental ini yang kami juga garap.

Ambil contoh kelas 6. Pendalaman Materi memang perlu, wajib. Hal yang kami juga persiapkan adalah pembinaan mental. Syukur Alhamdulillah, kami sangat senang dengan jawaban siswa-siswa kelas kami yang menjawan TIDAK TAKUT menghadapi UN. Lantas kenapa kebanyakan orang tua bahkan guru (terlalu) khawatir, ya? Mental memang harus kita benahi mulai dari kita semua. Mental itu menular lho, seperti virus. Jadi, milikilah mental sekuat anak-anak tadi, berani mengatakan untuk yang tidak perlu ditakuti.

Takut? Wajar (aneh kalau tidak takut); karena itu bukan untuk dihindari, tapi dihadapi, diatasi. Dan UN bukan untuk membuat anak jadi TAKUT, malah harus siap sedia. Kami sedang menanamkannya.

Justru kami takut kalau kami tidak melakukan dan memperhitungkan dengan cara yang benar. Kami berusaha sekuat tenaga dengan kejujuran dan sesuai prosedur (aman dunia akhirat) untuk mensukseskan lulusan kami. Insya Allah.

Indahnya Memberi

by: tiut

Semoga belum terlambat untuk saya mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada murid-murid saya yang ‘Super’. Pertengahan Februari ini mereka mengejutkan saya dengan ‘skenario’ buatan mereka. Hari itu entah mengapa satu per satu -ini bukan skenario- bertanya kepada saya kapan saya mengajar di kelas lain. Ada tiga anak putri yang bertanya. Pikir saya, kenapa tumben mereka tanya? Padahal mereka tinggal lihat di jadwal yang memang tertempel di depan meja ‘kerja’ saya.

Lucunya lagi Haikal, baru sampai di kelas, langsung tangan saya dijabatnya sambil mengucapkan selamat ulang tahun segala! Haa…spontan saya tertawa dan benar-benar bilang bahwa saya hari itu bukan hari ultah saya. Haikal masih keheranan sambil se-PD mungkin mengatakan bahwa saya hari ini ultah. Aneh!

Pagi itu pula, sehabis istirahat, mereka sepertinya bermaksud ‘menjebak’ saya. Mereka bilang ada yang berkelahi. Tapi saya heran, karena raut wajah mereka yang melaporkan tidak terlihat cemas atau khawatir. Langsung saya masuk kelas sambil bertanya, “Mana jagoan yang berantem?”

Spontan mereka pada teriak, “Sebenarnya enggaakk… surprise!!!” Saya jadi bingung tidak bisa bicara apa-apa lagi. Lha, emang tidak pernah saya duga. Ada apa?

Tiba-tiba saja Saras, sepertinya bertugas mewakili teman-temannya yang lain, menyodorkan sesuatu ke hadapan saya. Saya tercenung lagi, malah saya terduduk, sambil tetap bilang, dengan polosnya, “Apa ini? Beneran deh, bukannya GR, tapi ini dalam rangka apa ya?? Saya tidak ulang tahun nih hari ini.”

Saras menjawab bahwa katanya memang ini bukan untuk itu. Belum selesai Saras menjelaskan (kalau tidak salah) Wiwid menghampiri saya lagi sambil menyodorkan sesuatu. Ampuunn…saya jadi makin speechless. Alhasil semakin saya berpikir malah semakin tidak penting. Yang penting saat itu saya mengerti tindakan mereka.

Saras melanjutkan katanya karena akhir-akhir ini kelas Hamzah sering ‘kena omel’ guru. Jadi, katanya ini sebagai hadiah saja karena kelas kita lagi sering dimarahin.

Senyumlah saya. Saya bisa bilang apa? Selain terima kasih dan penghargaan pada mereka karena mereka telah bersusah payah melakukan ini semua. Saya bilang mereka tidak perlu begini, yang penting apa pun keadaan kita, kita bisa menerima dan mau memperbaiki diri. Sebagai penutup saya katakan, “Oke, ini semua Bu Thia terima dan pasti dipakai!” Mereka langsung, “Yeee……”

Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Saya berterima kasih pada mereka semua. Saya melihat di mata mereka betapa senang mereka melakukannya, maka saya bisa bayangkan bila saya menolaknya. Pasti sedih, karena itu juga yang saya rasakan.

Tahun ini saya diberi amanah untuk mendampingi mereka selama satu tahun ke depan hingga Juli 2011. Hingga Allah kehendaki mereka naik kelas VI, InsyaAllah. Lama memang saya (kami) tidak menulis berita terkini tentang kelas-kelas kami. Namun semoga momen ini bisa semakin memperkaya khasanah bahwa pengalaman kami mendidik ini memiliki arti yang istimewa. Lebih dari sekedar mendidik. Namun persahabatan, kasih sayang, aral, saling perhatian, semuanya mewarnai langkah kami.

Saya melihat sebagian mereka telah dewasa. Yah, bisa dibilang demikian. Sudah mulai melihat lawan jenis, mulai menyukai lawan jenis, dan semakin berani bersikap (meskipun ini yang sering saya nasihati) agar semuanya dikemas dengan kesantunan.

Sekali lagi, terima kasih telah melibatkan saya dengan ‘indahnya memberi’. Karena semua ini adalah jalan jika ingin berbahagia. Bukan saling menuntut. Kita yang saling memahami. Kalau dipikir-pikir, saya pun tidak pernah menduga bakal begini kejadiannya. Maka semua tentu kembali kepada Allah SWT yang menggerakkan alam ini. Semoga hati kita semua dipertautkan karena cintaNya, amin.

Thank you. dear! I love you.

Panggung Itu Tetap Milik Kami

Ready in Action!

[Hamzah, 2010] by t.i.u.t

Kamis, 4 September 2010 lalu, Alhamdulllah sekolah kami telah mengadakan acara Pesantren Ramadhan 1431 H yang dimeriahkan dengan kegiatan pentas seni & kreasi anak mulai kelas 1 hingga kelas 5. Diselingi dengan rintik gerimis yang sedikit menggelitik kami hingga harus menyingkir dari arena penonton. Namun itu semua menjadi kekhasan acara Ifthar Bersama tahun ini dan tentu Alhamdulillah tidak mengurangi rasa semangat siswa-siswi kami dalam menampilkan karya mereka yang terbaik.

Kali ini, kelas kami -5 Hamzah- mendapat giliran terakhir, bersama pula dengan rekan kami di kelas 5 Khalid. Persisi Maghrib, kami masih in action. Rupanya waktu memang sangat terbatas. Akhirnya kami memang punya kenangan sendiri di sini. Memang penontonnya sudah berada di kelas masing-masing berhubung gerimis. Jadi yang menonton pastinya hanya para orangtua Hamzah serta beberapa guru. Alhamdulillah kami tetap semangat meski kami mesti gantian untuk berbuka. Hebatnya, kami pun berbuka saat di panggung, sesaat sebelum kami semua naik panggung untuk salam akhir, kami makan malam pun di panggung. Alhasil, kami menghibur diri kami sendiri setelah latihan kami selama kurang lebih selama 2 minggu.

Terima kasih atas perhatian kalian semua sore itu, kami sangat menghargainya. Kami bahagia dengan hasil yang kami capai. Kami tetap bersyukur bahwa usaha kami tak sia-sia. Bagaimanapun, walaupun di penguhujungnya kami tampil, namun panggung itu tetap milik kami. Tetap semangat, ya! Lain kali kami akan siapkan kejutan yang lebih wah lagi!

Salam ‘Singa Padang Pasir’

Zubair BTQ Final Season 2010***

Suasana KBM PAI di Kelas 3 Zubair

by: tiut_Zubair CT

Kamis lalu, memang hari KBM terakhir. Meskipun hingga saat tulisan ini dimuat, kami belum mendapat kepastian tentang UKK Dikdas yang sedianya menurut kalender akademik tahunan jatuh pada tanggal 14 Juni nanti. Jika ya, maka KBM masih 1 minggu lagi sejak 7 Juni nanti selama 5 hari terakhir hingga 11 Juni.

Program BTQ di kelas Zubair Alhamdulillah mengalami kemajuan yang menurut kami sungguh menggembirakan. Tinggal 8 siswa yang harus berjuang lebih keras lagi untuk menyusul rekan-rekannya yang telah lebih dahulu membaca Al Quran. Berikut ini para pejuangnya:

  1. Ali Zainal Abidin***
  2. Calista Athaya Fionanda
  3. Fadlan Haramain
  4. Muhammad Tata Satrio Gaus
  5. Muhammad Tawakal Fikri Tuharea
  6. Rafli Hendikesta
  7. Shira Riana Allen
  8. Wahyu Riansyah

Rio “HambaAllah” Abdullah. Mulanya pria cilik ini berperawakan kurus, termasuk laki-laki yang ‘cool’. Awalnya memang agak kaku mungkin karena memang bawaannya malu-malu. Namun dengan semangatnya, akhirnya Alhamdulillah Minggu kemarin (tepatnya Jumat, 21 Mei 2010), Rio telah membaca Al Quran. Kami bahagia sekali melihatnya bahagia yang terpancar dari raut wajahnya yang semu-sipu malu. Keesokannya, Rio memang membawa Al Quran, karena jika tidak dia akan tetap membaca Iqra. Alhasil, sesuai janjinya, ternyata ia membawa Al Quran. Sungguh kado yang membahagiakan kami di musim terakhir kami di Zubair. Selamat, ya, Rio-ku…

Ali Zainal Abidin. Perawakannya tinggi (untuk seusianya), kulit agak coklat gelap (hehe…manis, kok), rambutnya yang jabrik menjadikannya sosok yang paling mudah dikenali. Hobi berenang setiap Sabtu. Ali*** artinya yang paling semangat dalam membaca Iqra. Dia mulai dari Iqra 2 1/2 kalau tidak salah karena awalnya cukup berantakan mendengar bacaannya. Namun Ali ini memang gigih nian. Biar Bu Thia-nya rada ‘sedikit galak’ (hehe…supaya dia ngerti juga jangan malas kalau merasa tidak bisa, karena Bu Thia nih geregetan kalau melihat anak yang loyo semangatnya dan merasa malas meneruskan…). Sekarang baru selesai Iqra 5 akan beranjak ke Iqra 6. Rupanya Ali ini semakin ‘gila’ baca Iqra (bahkan pernah sampai 3x sehari) sejak makin tahunya Rio Abdullah diloloskan ke Al Quran oleh Bu Thia. Hmm…makin panas juga Ali ini. Namun positif tentunya… Selamat, ya Ali!

Bukannya kami tidak ingin menceritakan satu persatu permata hati kami di Zubair. Namun tentu sangat banyak yang akan kami ungkap dan akan jadi terlalu banyak juga ceritanya. Yang pasti kalian semua telah berusaha luar biasa. Baik membaca dan menulis kalian telah lalui dengan baik. Terima kasih atas kerjasama dan partisipasi kalian semua dalam satu tujuan yang mulia demi masa depan cerah ceria. Kita masuk kelas 3 Zubair dengan happy, maka kita akhiri jua dengan happy ending. Selamat atas usaha keras kalian dan kita semua. Bu Thia dan Bu Byah bangga pada kalian!

Salam Semangat!!

Thia & Byah_Zubair CT’s

Kita Bisa Karena Mau dan Sungguh-Sungguh

I feel amazing in my everymoment!

Kamis, 27 Mei 2010

by : Thia Utami, S.P.

Hari ini bisa dibilang hari terakhir kegiatan belajar mengajar di SDIT Al Muhajirin. Khususnya di kelas 3 Zubair ini, saya dan asisten saya Alhamdulillah saling mengingatkan untuk menyampaikan dan menyempatkan diri mengingatkan hal-hal menjelang UKK Senin ini.

Hari ini pula kami mengadakan latihan ulangan Matematika dan membahas minggu PR yang cukup padat juga buat kami semua. Alhamdulillah rangkuman juga sudah kami berikan dan Alhamdulillah pula mereka telah terima semuanya. Buku-buku juga telah mereka bawa pulang. Loker lumayan bersih (meskipun belum total bersih).

Bicara mengenai ulangan atau latihan, kami sengaja menyempatkan juga untuk melatih mereka di saat terakhir KBM ini. Kami yakinkan bahwa mereka telah belajar dan berlatih selama 5 bulan, maka latihan ini pasti bisa mereka lewati. Hasilnya? Alhamdulillah, mereka mampu dan hasilnya tidak mengecewakan, lho.

Ulangan lain berhitung yang kami lakukan adalah ulangan praktik menghafal perkalian 6. Ya, ulangan yang saya nilai dari tindakan mereka menghafal di depan kelas dan didengarkan oleh teman-temannya. Sebenarnya kami belum tahu lagi sejauh mana keseriusan mereka menghafal perkalian 6. Namun karena komitmen kami, kami ingin melihat usaha mereka, sejauh mana.

Pada kesempatan tersebut, saya sengaja memanggil satu per satu (sekemauan mata saya dan hati saya memutuskan). Mereka siap. Kami meyakinkan mereka bahwa kami hanya ingin tahu sejauh mana, dan ketika belum mencapai batas minimal (70%) kami memberikan kesempatan kepada mereka untuk menghafal kembali. Mereka terima deal itu.

Hasil keseluruhan ternyata amazing! Saya harus akui itu. Satu siswa saya yang saya tidak menyangka adalah Shella. Shella Shadilah namanya. Saya memanggilnya. Ia tanpa ragu maju. Kemudian setelah membaca Bismillah, ia mulai mengucapkan perkalian 6. Perlahan namun lancar. Alhamdulillah, ternyata Shella bisa mencapai 80%. Subhanallah! Kemudian Ali juga berani, Rafly juga 100% bisa menghafal perkalian 6, lalu Uwie yang malu-malu tapi oke ini juga bisa. Semuanya berani dan berhasil! Intinya hanya sekitar 3 siswa yang masih mencapai 40-50% saja. Hasil ini sungguh menggembirakan. Kami sangat senang mereka pun telah memberikan yang terbaik di hari akhir KBM Zubair. Kami sangat gembira. Tak ada kata terlambat untuk bersungguh-sungguh. Karena itulah intinya kita hidup. Bukan sekedar mimpi namun upaya itu tetap yang terpenting. Apalagi dengan doa, lebih baik lagi.

Oleh-oleh kecil ini sangat mengagumkan kami. Ini bukti bahwa mereka bisa selama mau mencoba.

Sampai jumpa, ya. Maafkan Bu Thia dan Bu Byah yang masih jauh dari sempurna, kami belum bisa memberikan yang terbaik untuk kalian semua. Namun ini yang kami lakukan. Segala sesuatunya kami nikmati agar kami mengerti arti keikhlasan. Kalian adalah yang terbaik. Kalian akan sukses selalu. Insya Allah!

Sukses selalu di kelas IV nanti. Ingat untuk selalu berbuat dan berdoa. Karena semua ini tiada lain tanpa karunia dari Allah SWT. Allah-lah yang TERBAIK.

Ucapan terima kasih

Pertama, kepada Allah SWT.

Kedua, kepada siswa/i zubair dan orang tua tercinta.

Kepada Kepsek, Wakasek, dan TU serta rekan sejawat.

Kepada Asisten saya, Siti Robiyah, S.Pd. (You are doing good, dear!)

Kepada Bu Sarni dan Pak Warno.

Salam Woqeh

Woqeh!

Thia & Byah, dkk.

Our Wonderful Moment in Salman and Auf

Salman and Auf Moment in Time…

Kita baru (selalu) mengerti arti sesuatu bila telah pergi. Namun kita patut mensyukuri segala hal yang telah terjadi, termasuk perjumpaan. Tidak terasa kami telah sampai pada ujung tahun pelajaran 2009-2010 yang menantang, menyenangkan (sekaligus penuh perjuangan) menuju tahun 2010-2011 yang pastinya akan jauh lebih berat dengan tujuan yang lebih besar lagi. Cita-cita kita tentunya harus selalu lebih besar dan besar lagi.

Teringat suatu waktu di mana saya begitu ber’api-api’nya menyampaikan artinya memberikan yang terbaik. Rupanya mereka menerimanya dan bahkan melaksanakannya, lho. Meski saya paham bahwa itu semua membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikitt. Tentu itu semua tak luput dari perhatian saya. Hal yang saya tanamkan kepada mereka bahwa artinya rugi memberi dengan ikhlasnya memberi. Saya menegaskan pada mereka bahwa kalau tidak mau memberi pada orang lain, minimal berilah yang terbaik pada dirimu sendiri. Lalu, jika pun ternyata memberinya setengah hati, jangan memberi sekalian, karena (saya balik tanya) apakah suka kalian diberikan hal yang tidak terbaik? Mereka langsung menjawab TIDAK MAU. Akhirnya masuklah persepsi nilai di sana bahwa (karena saya katakan) kalau begitu berilah yang terbaik karena setiap kita selalu ingin yang terbaik!

Dan rupanya, Alhamdulillah mereka berusaha yang terbaik. Mereka semua mampu menunjukkan hal yang terbaik, bahkan lebih (mungkin) dari kami-kami yang lebih tua (lebih dulu hidup).

Pertama saya melihat ini, ingin rasanya air mata mengalir, namun saya tahan karena saya terharu. Saya sangat terharu karena usaha itu tidak akan sia-sia. Mereka mengerti artinya kepuasan dalam berjuang. Karena mereka tampak begitu lega karena telah menunaikan tugas sebagai ‘aktor’ cilik-cilikan. Mereka menyiratkan itu dari bahasa dan gerak mereka. Mereka senang apalagi telah berlatih sebelumnya, LUAR BIASA! Saya sangat menghargainya. Mereka memang sangat sadar bahwa saya selalu mengingatkan bila penampilan drama ini adalah ulangan yang saya nilai. Bahkan beberapa di antara mereka berbisik begini: “Bu, kan kita tampil bareng, nih, tapi kita dinilainya sendiri-sendiri, kan?” Lalu saya iyakan dan anggukkan. Luar biasa bukan? Mereka memastikan saya FAIR. Mereka memastikan saya melihat usaha mereka. Makanya saat terakhir pun saya mengecek frekuensi latihan mereka, lalu saya tanyakan siapa yang gayanya lebih kaya, kemudian saya pastikan juga dengan mengumumkan tiga penilaian (yang itu juga mereka tanyakan), Subhanallah! Mereka sangat antusias mendengarkan kriteria penilaian tersebut : Dialog (hafal/tidak), gaya/ekspresi, dan kostum.

Bu Thia juga sangat berterima kasih atas segala pesan dan nasihat kalian semua yang secara tidak langsung mengajarkan atau mendidik pengalaman Bu Thia selama ini. Karena itu, beberap momen ini Bu Thia ambil dan tampilkan sebagai wujud that I LOVEYOU so MUCH. Memang sederhana juga yang bisa Bu Thia berikan namun pantang mundur kalau Bu Thia sudah bilang A. So, inilah yang bisa menjadi sedikit oleh-oleh dari siswa/i kelas IV Salman al Farisi dan IV Abdurrahman bin Auf.

(Sekedar ingat bisikan mereka : “Bu…Mabitnya kapan lagi?”, “Bu, kita kapan bikin kapal-kapalan untuk Drama Malin Kundang lagi di kelas V?”, “Bu, kelas V ntar dramanya beneran, ya?”, “Bu, ayo, Bu ke atas, kita udah siap, nih dari istirahat pake bajunya.” Bu, kelompok mana yang lebih bagus?” Semua ini membuat Bu Thia mengerti bahwa kalianlah yang mengamati Bu Guru, kalian pula yang menjadi BOS Bu Thia. … Semoga kalian mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga ya… supaya kelak kalian beranjak dewasa, kalian lihat blog ini, lihatlah, bahwa kalian pernah mengalaminya).

Selamat Menyimak!

Ki-Ka: Bu Tiut, Yaya, Rachma, Rizka, Mario, Wiwid

Tim Malin Kundang I ini ingin menunjukkan kebolehannya. Kompak kostumnya and oke juga penampilannya. Cool…

Ki-Ka: Tiut, Dita 'E-Menk', Haikal, Kania, Dandy, Devany

Luar biasa, lho usaha mereka yang tidak main-main. Lihat donk, ada yang niat banget jadi kelasi alias Nahkoda, tapi Haikal ini banyak yang bilang lebih mirip supir daripada Nahkoda (hehehe…. peace…!!). Trus…Kania si lincah ini ekspresinya (lebih tepatnya ekspresi diri sendirinya ketimbang ekspresi ‘Made Robaya’-nya) keluar banget, soalnya Kania ini ekspresiffff banget kalau melihat anaknya si Dandy Kundang. Lucu, deh…mukanya tidak ‘ikhlas’ banget…apalagi waktu didorong Malin Kundang…malah Malin Kundang yang jatuh…!! Duhh…Malin Kundangnya malah kena kutukan, nih.

Ki-Ka: Afni, Devita, Daffa, Rafa, Nada, Bu Tiut

Tim Malin Kundang III ini juga tidak kalah hebohnya. Lima-limanya tampil maksimal dengan kostum terbaiknya. Luar biasa, deh!!! Salut buat mereka semua karena mereka memahami The Best I Can Do!! Afni dengan kostumnya yang keren abizz… Devita yang lembut, ekspresinya lumayan dapat, Daffa yang juga pakai acara sujud segala lho waktu aktingnya… trus juga Rafa yang ayu, dengan senyum manis ala istrinya Malin, serta Nada yang ‘gagah’ juga dengan tampilan Nahkodanya, lumayan serius, lho.

Ki-Ka: Rafi, Adzkia, Teguh, Saras, Bu Tiut

Duhh…manis-manis ya, pemerannya. Rafi yang agak ‘ngoboy’, lalu Adzkia yang adem-ayem, Teguh yang manis (hehe…), Saras yang juga ‘cute’. Penampilannya tidak mengecewakan, lho! Mereka pakai acara latihan segala, lho. Jadi dengan kostumnya yang oke punya, kesungguhan yang jempolan, InsyaAllah sukses berat, deh…

Nah, foto berikut ini adalah bonus-bonusnya… ini dia…

Ki-Ka: Aulia, Nisa, Bu Tiut, Jafar 'Habib', Jalu Rafif, Gilang, dan Asrori

Ki-Ka: Bu Tiut, Erisa, Habibah, Kevin Pasha, Agha, Thariq, Ilham

Haikal and Rachma are in action! Nah, yang kanan memang mirip Kelasi tapi yang kiri? Katanya lebih cocok jadi supirnya yang kanan (hehehe...)

Kami serius, lho!

Vini...Vidi...Vici...!! We are all number ONE!! Kami HEBAT! Kami Bintang!!

Kami tidak akan melupakan momen-momen kami. Kami memang belum sempurna, namun kami ingin ke sana. Kami memang berbeda, namun keberbedaan inilah yang membawa kami pada arti KEBERSAMAAN dalam senyuman tulus kami. Kami senang, bahagia, dan kami gembira. Selalu optimis dan memandang hidup ini dengan kebaikan yang tak terkira. Karena Allah telah memberi kami semua yang terbaik, orang tua terbaik, sekolah terbaik, guru terbaik, sahabat terbaik, dan nilai-nilai hidup terbaik.

May, 27th, 2010, Our Last Performance...It's a wrap!! See Ya All...

Saya, pribadi, memberikan apresiasi yang luar biasa besar kepada Kelas IV Salman Al Farisi dan IV Abdurrahman bin Auf yang telah memberikan BEST EFFORT terhadap drama sederhana Malin Kundang. Saya juga mengapresiasi para orang tua yang luar biasa pula mendukung agenda belajar putra-putrinya. Salut untuk semua… yang telah memberikan terbaik yang mereka bisa. Tentu ini semua tidak akan sia-sia karena Allah akan memberikan pula yang tebaik selalu bagi mereka, Amin.

Terima kasih banyak yaa…

We can achieve this moment because we are together.

I Love You All…

Drama Kenangan: Malin Kundang

Pemeran Malin Kundang Tim I

Pemeran Malin Kundang Tim II + Ibu Guru

Aktingnya Latihan lagi, tuhh...!

Ekspresi....!! Ekspresiii...!!

Sambutan siswa dan siswi Kelas 4 Auf cukup antusias. Mereka merespon baik berupa kemauan menghafal, berteman, bahkan kostum segala. Saya sangat bangga pada mereka yang telah berusaha gigih mensukseskan drama Malin Kundang yang telah kami semua siapkan selama hampir 2 bulan kurang.

Alhamdulillah, semua karena izin Allah, kita semua dapat menampilkan dan memberikan yang terbaik, meski saya mengakui sangat banyak kekurangan terutama dari sisi ekspresi (masih cengengesan…). Saya sampaikan pada mereka semua bahwa ini drama pemanasan sebelum di kelas V nanti.

Dokumentasi ini bisa menjadi kenangan bahwa kami pernah berbuat dan pernah memberikan yang terbaik yang kami bisa lakukan. Suatu saat ini akan membuat kami tersenyum karena kami berkostum manis.

Hal berharga yang sangat saya hargai adalah kemauan mereka untuk toleransi dengan keadaan teman mereka, kebiasaan, tabiat, perangai, serta sikap yang mungkin mereka temukan sangat berseberangan dengan diri mereka masing-masing. Namun semuanya luruh karena satu tujuan yang satu, yaitu bagaimana mereka mampu memberikan penampilan dan keberanian untuk bisa tampil beda.

Terimakasih untuk semua, kita tunggu tim-tim berikutnya. Tunggu Kami!!

Lomba

Hari Jum’at, 7 Mei 2010

Cerdas Cermat

Suatu hari dimana anak didik Sekolah Dasar Islam Terpadu mengikuti berbagai macam lomba yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari RA Kartini dan Hari Pendidikan Nasinonal (HARDIKNAS).

Senang dan bangga pada setiap diri siswa dalam menyambut perlombaan tersebut. karena selain menambah keberanian dalam melatih mental siswa namun dari segi pendidikan siswa juga dapat menambah pengetahuan.

Lomba Cerdas cermat, mengarang, mewarnai, menggambar dan pianika adalah jenis-jenis lomba yang diperlombakan dan tentunya perebutan peraih sebagai sang juara. ada yang deg-degan, ada yang gemeter dan adapula yang terlalu pe-de sebelum mengikuti lomba. deg-degan karena takut soalnya susah, gemeter takut berhenti di jalan/lupa nada-nadanya, pe-de karena yakin akan menang. yah….itulah jenis perasaan yang ada pada diri peserta lomba. namun dari sekian jenis lomba yang ada, terdapat lomba yang sangat mendapatkan antusias yang sangat besar dari suporter yaitu lomba cerdas cermat karena selain terkadang membuat tegang para peserta lomba namun terkadang penonton pun ikut-ikutan tegang.

Senin, 11 Mei 2010

Hari dimana hasil perlombaan diumumkan, lomba cerdas cermat sudah diumumkan pada saat selesai perlombaan namun lomba yang lain baru diumumkan pada hari senin yang mana bagi perserta lomba yang mengikuti lomba tersebut bertanya-tanya pada diri sendiri, siapakah yang akan menjadi pemenang dan akan menjadi yang terbaik. akhirnya tibalah saatnya pengumuman dibacakan, ada yang bengong, ada yang tertawa, ada yang terkagum-kagum, ada yang bangga bahkan ada yang menangis…bengong karna tidak menyangka akan menang, tertawa karna senang mendptkan piala, bangga karna bisa mengalahkan teman-temannya, menangis karna haru bisa menjadi yang terbaik.

Mungkin kadang kita beranggapan buat apa piala dan kemenangan namun bagi mereka sangat berarti yang bisa dapat meningkatkan dan dijadikan motivasi dalam belajar. mudah-mudahan acara tersebut dapat terkesan di hati mereka dan selalu semangat dalam menuntut ilmu serta berani dalam menghadapi persaingan di masa yang akan datang.

Hasil Lomba

LOMBA CERDAS CERMAT
Kelas : 1 Kelas : 2
No Juara Kelas No Juara Kelas
1 I 1 Abu Bakar 1 I 2 Usman
2 II 1 Abu Bakar 2 II 2 Ali
3 III 1 Umar 3 III 2 Usman
Kelas : 3 Kelas : 4
No Juara Kelas No Juara Kelas
1 I 3 Zaid 1 I 4 Salman
2 II 3 Zaid 2 II 4 Salman
3 III 3 Zubair 3 III 4 Abdurrahman
LOMBA MEWARNAI
No Juara Nama Kelas
1 I Amalia Bukhari 2 Usman
2 II Anugerah Lestari 3 Zaid
3 III Zalfa Nabila Aziz 3 Zaid
LOMBA PIANIKA
No Juara Nama Kelas
1 I Ananda Ramadhanti 4 Salman
2 II Puriayu Sarasvanti 4 Salman
3 III Syifa klarisa putri 2 Ali
LOMBA MENGARANG
No Juara Nama Kelas
1 I Habibah Arin 4 Abdurrahman
2 II Adristi Salsabila 3 Zubair
3 III Fitri Rachmanisa 4 Salman

Selamat yah tuk sang juara, semoga bisa meningkatkan pada diri kalian untuk selalu belajar dan bagi yang belum mendapatkan kesempatan maka yakinlah bahwa kalian bisa mendapatkannya karna semua impian dapat terwujud jika kita mau berusaha dan berdoa.

Tak Lagi Menulis dengan Pena, … by heart!

by: tiut_ZrCT

Suatu hari, di hari Rabu, 5 Mei 2010, saya mengajar di kelas 4 Abdurrahman bin Auf. Kali ini saya memberi kesempatan pada siswa-siswi saya untuk menuliskan sebuah karangan. Kali ini tema yang saya tawarkan adalah : “Jika Aku mempunyai banyak uang, aku akan…”

Dua bulan terakhir ini, saya memang menugaskan siswa saya untuk membawa buku khusus Diari. Niatnya InsyaAllah sampai mereka lulus mereka harus menuliskan apapun suka dan dukanya. InsyaAllah…

Tema yang sudah pernah saya berikan adalah tentang tempat yang paling ingin dikunjungi, hobi, dan terakhir yang saya sebutkan di atas.Tema ini bukan dimaksudkan untuk berandai-andai, namun saya sampaikan bahwa kata-kata yang akan kita tulis adalah doa, anggap saja demikian.

Nah, kali ini sepertinya cukup memberi tantangan imajinasi (liar) yang bisa merangsang daya pikirĀ  mereka. Ya, mereka bisa menuliskan 7 sampai 10 kalimat saja sudah sangat baik.

Saat waktunya sudah selesai, tibalah saatnya tulisan itu dibacakan. Sayangnya memang masih ada yang belum berani. Dan ia mengatakannya terus terang. Ya…tidak mengapa juga. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, mereka akan jauh lebih berani berbagi. Karena membutuhkan energi dan keberanian luar biasa, lho untuk bisa memulai membuka dirinya apa adanya.

Sampailah saya pada seseorang yang saya tawarkan. Saya tanya apakah ia berani, ternyata jawabannya, Ya, berani. Subhanallah

Saya sengaja tidak menyebutkan namanya di sini, berikut tulisannya, karena saya belum sempat meminta izinnya agar tulisannya dimuat.

Inilah bagian yang paling mengharukan seluruh kelas. Saat ia membacakannya, belum selesai satu kalimat, ia tertahan… rupanya tenggorokannya tercekat, menahan emosi yang mendesak air matanya. Ya, Allah…Subhanallah…saya tidak menyangka saya menemukannya. Proses inilah yang paling membahagiakan seumur hidup saya. Ia terus menghapus air matanya yang berderai jatuh…mengaliri pipinya yang selama ini tak pernah saya lihat demikian tersentuh dengan apa yang ditulisnya hari ini.

Hampir tiga tahun saya mengenalnya, ia anak yang tabah. Namun menurut ibunya memang anaknya ini perhatian dengan ibu dan kondisi keluarganya. Makanya saya tidak heran melihatnya begitu emosionil saat mencoba meneruskan bacaannya.

Hebatnya lagi…

Ia masih berjuang terus ingin membacakan tulisannya, dan luar biasanya lagi, ia tidak malu, meskipun ia seorang laki-laki…dengan air mata tulusnya.

Mendengar suaranya membacakan kata demi kata…

Melihat wajahnya yang menahan tangis harunya…

Mengingatkan saya betapa dewasanya laki-laki kecil ini…

Ia membuat teman-teman sekelasnya terpana…

Mencoba memahami apa yang sedang terjadi…

Karena tidak pernah kelas seperti ini…

Terlebih melihat temannya yang satu ini menangis terharu sambil membacakannya…

Seandainya saya telah mendapatkan izinnya untuk mengutip isi tulisannya yang sederhana, Anda pun akan merasakannya, karena saya telah mendengar dan membacanya sendiri. Bagi saya (pribadi) ini adalah momen yang LUAR BIASA!! Ini harta TERBAIK saya saat ini, momen ini sungguh saat mahal harganya. Subhanallah

Laki-laki kecil ini, kembali meneruskan bacaannya hingga akhir. Sambil sesekali tangan kirinya mengusap air matanya yang jatuh…

***

Lain lagi gadis ini,

Saya mengenalnya sebagai gadis yang tertutup. Seringkali hasil pekerjaannya tidak mau dia perlihatkan pada teman-temannya. Padahal bukan salah. Ketika tulisannya telah selesai, saya menasihati semuanya bahwa tulisan kita akan menjadi berarti bila ada yang membacanya. Apa artinya tulisan orang ternama bila pembacanya tiada?

Akhirnya secara menakjubkan juga, setelah sang lelaki cilik usai membacakan kisahnya, gadis ini mengangkat tangan kanannya lurus, saya agak kaget juga melihatnya. Hanya wajahnya yang ia tutup dengan buku diarinya.

Tidak jauh berbeda dengan sang lelaki cilik, ia pun menangis berderai air mata. Tak jelas apa yang ia baca saking hatinya terbenam sendiri dengan perasaan terdalamnya. Akhirnya saya menawarkan apakah ia ingin meneruskannya atau melanjutkan lain waktu. Ia memilih menceritakan lain waktu.

Saya bangga pada mereka karena berani MENULISKAN APA YANG MEREKA YAKINI dengan segala ketulusan. Ya, mereka telah menuliskannya dengan hati, bukan sekedar dengan pena. Saya bangga pada mereka, semoga kami semua menemukan kebahagiaan yang berarti bagi orang sekitar kita yang kita cintai. InsyaAllah, amin.

Kelas Barongsai!!! Heboh!!

Vyati

Ibu Ketua Kelas Zubair Woqeehhh....

Hari ini kami bahagia benar dan benar bahagianya. Seberat apapun tadinya rencana kami ternyata bila kami sepakat hasilnya tidak terasa berat juga, ya, ringan saja. Meskipun melaluinya pun dengan air mata dan penderitaan ala kami, anak-anak Zubair.

Kami melaksanakan kali ketiga pengerjaan proyek SBK dengan topik membuat dan menghias benda tiga dimensi dari kotak sabun. Kotak sabun yang seminggu lalu telah dibuat kami cat. Selasa lalu, kami mengecat bagian dalam. Nah, sekarang-setelah ditunda sehari- kami mulai mengecat bagian luar kotak sabunnya.

Kami mengerjakannya di luar kelas, banyak angin numpang lewat. Bagus juga sih mengimbangi cuaca yang luar biasa panas hingga 33 derajat celcius, kata TV. Kami mengerjakannya bergantian. Herannya, pada kali kedua ini kami bekerja, ada-ada saja insidennya. Waktu pengecatan pertama, hampir praktis tidak ada yang kena cat atau apalah. Eh, kali ini yang terparahm Wahyu. Dia mengecat dengan tangan dan jarinya. Waduuh! Ternyata tidak sabaran sekali dia! Biasalah, kalau sudah begini, Bu Thia yang tadinya menulis di papan tulis, di dalam kelas, kontan saja keluar karena laporan teman-teman semua melihat aksi Wahyu.

Kata Bu Thia, “Begini, nih, kalau prajuritnya tidak taat sama komandan. Kalo ini pasukan tentara, wah, habis kamu ga bisa apa-apa. Ini baru cat!”

Wahyu jawabnya enteng, “Ya gapapa Bu, ntar juga tinggal kasih minyak tanah di rumah…!”

Bu Thia langsung bilang, “Iya, emang bisa, tapi kapan pulangnya? Gimana shalatnya? Makannya gimana?”

Wahyu jawab enteng lagi, “Gampang, tinggal pake sendok aja.”

Bu Thia jawab lagi, “Wahyuuu….kamu gampang aja jawabnya, tapi Bu Thia musti jawab apa kalo kamu pulang ke rumah??! Ntar dikiranya Bu Thia ga ngurusin kamu, ga tanggung jawab sama kamu!! Dah, cari minyak tanah sekarang juga!”

Satrio Gaus, langsung bergerak melesat mencari minyak tanah. Laporan tidak ada di toko terdekat, ternyata dia siap mencari ke toko di luar komplek yang lebih jauh. Luar biasa, tanpa disuruh, mereka pada paham Bu Thia butuh bantuan sesegera mungkin dan darurat abis. Masalahnya, tangan Wahyu makin menghijau bagaikan tangan Hulk. Ampuunn….Wahyu….udah kayak sarung tangan, dah.

Alhasil, didapatlah tuh minyak tanah. Bu Thia langsung meminta siswa yang kena cat, terutama pasien terberat, Wahyu, untuk mengantri, karena Bu Thia yang akan membersihkan cat-cat di tangan Wahyu. ya, bagaimana lagi? Sudah resiko kalau begini. Harus dihadapi dan diselesaikan. Karena kata Bu Thia kalau sudah begini, marah-marah sudah tidak perlu lagi. Yang penting solusi dan keyakinan bahwa ini semua adalah pembelajaran. Kita tidak perlu mengeluh sedikit pun. Meskipun Bu Thia cukup paham, menghadapi Wahyu ini butuh sabar, karena tipikalnya ada aja jawabannya, enteng di mata dia. Ya, karena memang dia belum tahu.

Nah, yang paling membuat Bu Thia terkesan adalah ketika semua selesai, beberapa siswi menawarkan bantuan untuk membersihkan semuanya. Memang tidak semua. Setelah semua anak disuruh masuk oleh Bu Thia, tinggallah Bu Thia sendirian. Bu Thia membersihkan lantai yang terkena tumpahan cat warna-warni. Vyati melihat Bu Thia sendirian, langsung ikut membantu mengecatkan milik temannya yang tidak hadir. Setelah itu, Vyati meminta izin pada Bu Thia untuk membantu ikut membersihkan lantai yang terkena cat itu dengan minyak tanah dan tissu. Ya, jadilah mereka berdua asyik membersihkan lantai yang kena cat itu perlahan-lahan.

Di sela-sela mereka membersihkan, mereka memang ngobrol. Di tengah-tengah ngobrolnya mereka, Vyati enak sekali langsung bilang begini:

“Benar-benar, ya, Bu!! Kelas kita ini kayak KELAS BARONGSAI!!!”

Kontan Bu Thia tergelak tawa, kalau boleh dibilang, Bu Thia tertawa cukup geli dan sangat geli mendengarnya. Sambil menahan tawa yang makin sangat, Bu Thia bertanya, “Haa?? Kok bisa jadi Barongsai? Kenapa begitu??!”

Kata Vyati, “Habis Barongsai itu kan bergerak mulu tuh Bu, trus, Barongsai itu… gimana ya? Kan warna-warni, Nah, kelas kita ini kayak gitu, Bu. Warna-warni. Ya, gitu lah Bu…lagian mana ada kelas yang kayak gini Bu, kayaknya cuma kelas ini deh yang kayak gini, ada-ada aja gitu Bu…”

Bu Thia malah tambah ketawa sambil bilang, “Masya Allaah…Masa iya sih? Ya Ampunn…Lha trus, kalo ini kelas Barongsai, berarti Bu Gurunya kayak Barongsai apa giman?”

“Nah itu, Bu…Barongsai kan naga, naga itu kan ngeluarin api. Nah, kalo Bu Thia lagi marah sama Bu Byah, ya gitu dah…kayak Naga…hahahaha…..” Tawa Vyati, waduh…puas banget tuh anak!

Tambah lagi lah Bu Thia semakin tertawa terbahak-bahak, sambil menutup mulutnya gara-gara disamain sama seperti Naga the Barongsai! Ya, Allah…

Jadilah hari ini hari kelas Barongsai, karena mana ada kelas laen yang kayak gini, kata Vyati. Di kelas, tahukah yang dilakukan Vyati? Kumat kayak anaknya Barongsai! Kayak Cheer Leader, tahu kan? Malah dibikin sorak-sorakan, Ba – rong – sai … ada-ada saja Vyati ini!

Mana bisa lupa kalau sudah begini? Apa ada yang bisa lupa?

Di akhir momen kami bersama selama ini, justru Bu Thia dan Bu Byah merasakan kedekatan yang semakin terasa. Bu Thia merasakannya sewaktu mereka menggenggam tangan Bu Thia dan Bu Byah kalau mau pamitan pulang. Kata Bu Thia, rasanya beda. Mereka seperti menciumnya dengan tulus. Ya, namanya dirasa dengan hati, susah diungkapinnya. Namun terasa, dari cara mereka merespon semua yang terjadi, dari cara mereka memahami Bu Gurunya, bagaimana mereka mencium tangan gurunya, kadang sampai dicium kelamaan banget. Ya, begitulah… mudah-mudahan kami bisa menjadi keluarga yang semakin bahagia, happy in happiness, dan tulus terhadap sesama, and lebih peduli lagi. Paling tidak kami semua senang menjadi KELAS BARONGSAI, apa sih memang arti Naga, tapi di mata Vyati dan teman-temannya, tentu Naga punya arti khusus sebagai lambang. Bu Gurunya Barongsai, berarti anaknya juga anak Barongsai, ya??!! We Love YoU all! :)

Sukses deh!! Amin….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.