Arsip Penulis

Semua Ini Tentang “Bicara Dua Hati”

child_crying_1Pagi itu, hari Selasa yang cerah. Seperti biasa saya melangkahkan kaki menuju kelas tempat saya mengajar. Pengajaran pun telah saya lakukan sesuai rencana. Kisah yang akan saya share kepada anda ini bukan rekayasa. Sedikit pengalaman yang membuat diri saya sendiri begitu terbuka dalam berpikir, bertindak, dan memberi solusi konkrit dalam menyelesaikan masalah anak. Saya menyadari kalau bicara masalah anak dan masalahnya memang tidak akan pernah habis. Sampai kapanpun. Begitu rumit, luas, ruwet, menyedihkan, menggemaskan, dan lainnya, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Ujungnya bermuara kepada sebuah keinginan agar hidup anak kita menjadi sedikit saja lebih memiliki arti.

Bicara lagi tentang anak, ketika kita (dalam hal ini guru) menyadari ada masalah berat pada sang anak, kita bisa memilih. Mau cuek, mau bingung, mau diselesaikan, mau dimarahi, mau ditekan, atau apa saja. Cenderung orang pasti memilih ingin menyelesaikan masalahnya. Tapi biasanya karena tahu resikonya berat kalau harus menyelesaikan masalah bisa saja kita (guruatau orang tua) memilih pasrah atau bingung harus bagaimana.

Bingung sejenak saya pikir tidak masalah. Namun yang terbaik dan terpenting adalah dalam masa itu kita membantu anak mencarikan jalan keluar (mungkin yang lebih tepat arah). Setelah itu biar sang anak yang berdiri dan berjalan menyusurinya. Termasuk setelah berbilang hampir dua setengah tahun saya mengenal anak-anak kami di sekolah ini, banyak hal yang saya kenang karena berurusan dengan mereka.

Pagi ini juga saya memanggil seorang anak (tidak perlu saya sebutkan namanya). Ini kali kedua saya memanggilnya dan mengajaknya bicara empat mata. Kali pertama boleh dibilang gagal, belum berhasil. Alias tidak mempan. Saya memang menangkap ada masalah dalam dirinya. Sejak kelas 1, anak ini boleh dibilang made in-nya sekolah. Karena sejak awal ia belum bisa membaca. Alhamdulillah berkat bimbingan gurunya, akhirnya ia bisa membaca, lancar pula.

Pada kali kedua saya memanggilnya, saya ajak bicara. Sebenarnya saat itu saya sedang dalam keadaan bertugas. Setelah memberikan penjelasan dan latihan singkat, saya secara spontan memintanya berada di dekat saya. Saya katakan bahwa saya ingin bicara.

Ia mengangguk. Kira-kira, begini dialog yang terjadi:

“Kak, serius nih ibu mau bicara sama kamu. Sekarang Kakak dengarkan aja dan tidak perlu bicara sampai ibu minta.”

“Ibu terus terang bingung sama kamu, Kak. Berkali-kali ibu minta kamu datang ke kelas yang ibu bilang untuk belajar tapi sebanyak itu juga kamu tidak pernah datang.”

“Ibu tuh bingung, maunya kamu apaan sih?”

“Kamu tahu, Kak? Nih, dengar baik-baik. Ibu mau kasih tahu kamu sesuatu tapi hanya kamu yang tahu, Kak.”

“Dari dua kelas ‘X’ ini…hanya kamu yang lupa menulis halus!! Kamu sadar gak?”

Saya melihat kedua bola matanya yang lugu mulai menyorot tanda ia mulai menyadari maksud saya.

“Kamu pikir ibu senang, Nak?”

“Kalau ibu mau bikin kamu tambah masa bodoh bisa aja. Ngapain juga ibu ngurusin kamu sampai begini, Kak?”

“Mau sampai kapan kamu begini? Nih, ibu mau bilang sesuatu. Kamu catat ini. Kalau kamu bertahan mau begini terus…oke…ibu cuma punya 1 jawaban buat kamu.”

“…selamat datang di kelas 1 lagi, ya!!”

“Kalau kamu maunya gini-gini aja, ya udah. Ibu nanti bilang sama guru kelas 1 atau guru TK kamu ya… biar sediain 1 kursi tahun depan buat kamu. Biar ibu bisa masa bodoh kalau begini caranya!”

“Biarin ibu ntar ngomong sama guru TK kamu, sama guru kelas 1 supaya mulai besok kamu duduk aja balik ke TK atau kelas 1. Main aja yang puas kayak anak TK…ga usah nulis ga usah ngitung….dah…gitu aja selesai…main aja yang puas! Ya…begitu aja ya…”

Kalimat ini saya ulang-ulang terus berkali-kali, sampai saya yakin dia ‘menelan’ maksud saya. Dari sorot matanya, saya makin melihat seperti ada penyesalan dan ketakutan karena dia tidak mau kembali ke TK atau kelas 1 lagi. Memang saya sedikit ‘menggertak’nya. Perlu anda ketahui, orang tuanya telah menemui saya meminta tolong untuk menangani anaknya. Saya bisa maklumi karena latar belakang dan kondisi keluarganya yang saya ketahui. Bahkan tentang kondisi ibunya pun saya bisa membayangkan bagaimana kondisi jiwa dan sikap serta motivasi si anak. Sang ibu ini memang hanya tahu memohon anaknya untuk belajar, hanya beliau tidak tahu bagaimana caranya. Melihat semua latar belakang keluarga ini, saya memang terpanggil untuk menolongnya. Ibaratnya, seperti seorang yang mau tenggelam, lalu berteriak meminta pertolongan segera pada saya. Intinya, karena saya pernah juga ke rumahnya, melihat kondisinya, mengetahui latar belakang ibunya, akhirnya saya luluh juga untuk membantu mendampinginya. Itu masalahnya, sang ibu ingin ‘bisa’ mendampingi dan membimbingnya, tapi tidak tau caranya. Karena sang ibu ini (tersirat) memang merasa ingin anaknya lebih baik, namun tidak tahu bagaimana caranya.

Kemudian…

“Kamu tahu, Nak? Ibu kamu itu orang yang paling sayang sama kamu, Nak. Ibu kamu itu berkali-kali datang pada ibu, mau minta tolong sama saya,Kak! Kamu sadar ga? Kamu memang ga tau!”

“Ibu kamu itu adalah orang paling pertama yang membela kamu walaupun kamu dapat nilai jelek!! Apa kamu masih dikasih uang jajan dan makan?”

Ia mengangguk…kepalanya tertunduk dalam…

“Apa karena kamu begini malasnya lantas ibu kamu tidak kasih kamu makan, ha?”

Dia bilang tidak.

“Ya, enggak lah! Ibu kamu tuh masih ada, Kak. Ibu kamu tuh minta tolong sama ibu. Ibu kamu tuh kayak ngelihat kamu hampir tenggelam terus ibu kamu minta tolong sama ibu karena ibu kamu nggak bisa nolong? Kamu ngerti gak?”

“Kamu tuh baru tahu rasa kalau ibu kamu yang membela kamu meskipun kamu begini malasnya, pergi ninggalin kamu selama-lamanya. Ntar pulang kalu kamu nggak lihat ibu kamu lagi jangan nangis ya?!!”

Lagi, kedua matanya saya lihat dalam-dalam, kali ini matanya berkaca-kaca. Mulai memerah, ada rasa sepertinya anak ini sedang menahan tangis dan kesedihannya.

“Kamu baru ngerasa deh Kak, kalau kamu nggak bisa ngelihat senyum mama kamu lagi! Lihat aja pulang dari sini. Kamu juga mau ditinggalin bapak kamu, Kak?”

Dia menggeleng…

“Ibu juga punya orang tua, Kak. Makanya ibu juga sedih ngebayangin mama yang biasanya mellindungi kamu tiba-tiba pergi selama-lamanya…dan TIDAK PERNAH KEMBALI LAGI!!”

Saya ulang-ulang lagi kalimat itu. Alhasil…sepertinya dia sudah mulai sesenggukan tanda ia menahan emosi dan kesedihannya. Sebenarnya pula saya bicara sama dia mengalir aja. Tidak ada skenario mau bilang ini itu. Ketika saya bicara sama dia, saya merasakan bayangan mamanya itu ada di depan si anak ini. Saya membuatnya ia membayangkan mamanya sendiri yang bicara.

Akhirnya saya bilang padanya, “Kak…nggak apa-apa kamu keluarkan sekarang kesedihan kamu…”

Belum selesai saya bicara, tiba-tiba saja anak ini menangis kencang, akhirnya lepas juga pertahanan hatinya. Menagislah ia sejadi-jadinya. Saya elus lengannya, saya elus juga punggungnya. Saya berkata pelan…

“Kaak…

“Sekarang kamu tinggal milih aja. Mau gimana? Mau tetap begini aja? Apa mau berubah? Jangan pernah mikir walaupun kamu nangis terus ibu bakal kasihan sama kamu, Kak. Enggak! Justru ibu bilang begini karena kasihan sama kamu. Kamunya mau ga ditolong?? Orang mau ditolong kok ga mau? Kamu ibu tunggu di kelas! Kalau kamu datang sendiri, berarti kamu memilih ingin lebih baik…ingin maju. Tapi lihat Kak…bener…kalau besok kamu ga datang…lihat aja kelas TK atau kelas 1 deh, udah nunggu kamu tahun depan! Ingat Kak, ibu nggak main-main sama omongan ibu! Biar kamu ngerasain deh main sama anak kelas 1. Ntar lama-lama kamu malas gini, kesusul adik kamu. Lihat aja. Begini aja terus, Kak…seneng ibu mah…nggak perlu ngajarin kamu lagi, orang kamunya sendiri maunya main aja… Ini terakhir kalinya ibu bicara sama kamu, Kak! Ingat…kalau kamu memilih tidak menemui ibu besok…Ibu tidak akan bicara lagi sama kamu…ibu biarin aja mau kamu tambah bodoh kek…tambah ga bisa apa-apa! Orang kamu yang mau!”

Eee…nangisnya tambah keras. Subhanallah…

Akhirnya saya ajak dirinya duduk di kursinya. Dengan menunduk, ia terus menangis. Saya memang tidak meminta dia bicara. Akhirnya…saya pasrah… saya serahkan semua pada Allah. Saya telah bicara…

Mother n daughterBicara pada anak memang nggak mudah. Ketika hati sudah bicara…InsyaAllah deh…komunikasi itu terjadi. Memang ia tidak bicara apapun pada saya karena memang demikian adanya. Namun hati kami yang bicara. Saya bersuara hanya dia tidak. Tapi dia menyimak kata-kata saya. Alhamdulillah… pulangnya dia menemui saya…saya berterima kasih padanya. Tapi saya uji lagi kemauannya tidka sampai di sini. Saya minta dia bertemu saya esok lagi di tempat yang sama, kalau ia tak datang, ya sudah…TK masih menunggu. Saya memberikan pesan yang saya usahakan jelas ia terima. Karena saya ingin dia paham bahwa dia harus punya kemauan dan mau bekerja sama. Itulah mengapa pesan saya saya ulang terus agar ia jelas dengan sikap dan maksud saya.

Konsistensi itu memang sulit, namun dengan berjalannya waktu semoga kemauannya terpelihara. Keadaan setiap pribadi anak berbeda. Maka boleh jadi penyikapan kita pun dan caranya juga berbeda. Makanya dibutuhkan uji coba dan pantang menyerah. Wallahu’alam.

Menegakkan Konsistensi Sikap pada Anak di Kelas

berdoaKonsistensi. Kedengarannya berat. Melihat dan membacanya saja ada kesan berat. Namun satu hal yang memang tidak dipungkiri terasa berat adalah bahwa menerapkan dan menegakkan konsistensi itu paling sulit di awal dan saat harus mempertahankannya. Ini kami alami di kelas.

Suatu Senin, pasca mid tes kemarin, kami memulai kelas dengan ‘genggaman’ kuat. Kelas kami tidak bisa ada celah sedikit untuk lengah. Sekali lengah…sudah… lewatlah semua!

Ya, saat itu kami memantapkan hafalan perkalian 4 dan 9. Kami harus memperlihatkan keseriusan ini mengingat betapa ‘sulitnya’ ternyata bagi sebagian besar siswa kelas kami untuk mengingatnya. Akhirnya habislah waktu 1 setengah jam untuk menghafal perkalian 9, pakai trik jari lagi. Itupun ternyata masih lupa-lupa ingat. Alhamdulillah kami men-serius-kannya!!

Lepas makan siang, kami shalat Zuhur. Kami pun tidak mau main-main! Kami beri peringatan awal bila ketahuan tertawa atau menyenggol teman sebelahnya, langsung akan kami hentikan dan mereka semua harus mengulanginya tanpa kecuali. Ini berlaku untuk rakaat pertama. Bila terjadi pada rakaat kedua hingga keempat, maka siswa yang bercanda saja yang harus mengulang, tidak semuanya. Wah…wah…wah… ternyata berhasil besar!!! Tidak ada satu pun yang melanggar! Kereenn…nnn…!! Bahkan sampai zikir dan doa pun, mereka patuh…Luar Biasaaaa…!

Tungggu dulu, itu baru hari pertama!

Hari kedua?

Waktu mengawasi mereka, ingin rasanya secara naluri fisik kami, kami ingin duduk saja. Tidak perlu berjalan-jalan mengawasi jalannya shalat zuhur. Seharian kami memang sangat all out, boleh dibilang begitu. Tapi seketika itu pula kami tersadar. Ada suara hati kami yang tiba-tiba mengingatkan.

“Hei…masa kamu mau duduk saja??!! Maksud kamu apa?”

“Kamu mau santai-santai apa? Baru kemarin kamu mencoba menerapkan disiplin dalam shalat! Masa baru sehari kamu ‘nyerah’?”

“Ayo berdiri sekarang!! Bagaimana anak-anakmu mau disiplin kalau kamunya saja baru sehari sudah ingin duduk aja?? Mikir donk!!”

“Akan jadi apa mereka kalau kamu ‘loyo’ begini? Konsistensi, lho!!”

“Kamu mau melihat anak-anak kamu ini tidak ada perubahan?? Tidak mau melihat mereka ada perbaikan apa?”

“Konsistensi lho….!! Investasi…!! Harganya mahal banget!! Lebih baik cape sekarang tapi kamu nanti senyum…”

“Ayo bangun…perlihatkan bahwa kamu konsisten pada nilai-nilai yang kamu tanam!! Jangan berhenti sampai di sini!”

Sebenarnya, baru saja saya duduk dua detik, kira-kira sepanjang itulah pikiran saya. Langsung saya berdiri seketika itu juga. Ya, Allah…ternyata begini sulitnya ya…menegakkan konsistensi kedisiplinan. Masya Allah susahnya…Rasulullah…pun pasti demikian…namun beliau sangat sempurna.

Biarlah rasa lelah ini kami rasa. Tidak apa. Toh…ini kan bagian perjuangan kami…

Kami bisa bayangkan bagaimana sulitnya di rumah menegakkan aturan. Malah mungkin karena ketidakkonsistenan kita sendiri yang menyebabkan anak sulit melihat yang seharusnya. Bagaimana anak akan konsisten seperti yang kita harapkan sementara kita sendiri sedikit ingat banyak lupa?

Jadi kemana larinya konsistensi itu? Bayangkan doa. Doa saja perlu konsistensi. Disiplin butuh konsistensi. Segala hal dalam hidup memang harus konsisten. Apalagi kami yang notabene guru. Bagaimana tidak? Konsistensi itu memang harus ada. Memang keras, namun bukan berarti tidak bisa. Bukankah Islam hadir hingga ke hati kita karena konsistensi Rasul dan para sahabatnya? Ya, Allah… betapa kecilnya kami ini.

Kata Pak Mario Teguh, bagaimana kita bisa meminta konsistensi orang lain bila kita sendiri tidak bertanya, sudah pantaskah saya memperolehnya? Apakah kita sendiri sudah memantaskan diri untuk harga sebuah konsistensi? Pak Mario pesan…setialah pada nilai kebenaran…lalu lihatlah apa yang terjadi.

Bismillah

Semoga saja kami bisa konsisten alias istiqamah dengan sikap konsistensi kami ini. Seperti lirik d’masiv : jangan menyerah, Tuhan pasti kan menunjukkan, Kebesaran dan KuasaNya, bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa.

Salam Semangat dan salam super!!

_ by tiut_Mrs.Zubair.2009

Program BTQ Kelas 3 Zubair 2009

UT0122244BTQ adalah program Baca Tulis Quran. Hampir setengah siswa 3 Zubair telah membaca Al Quran. Selebihnya masih Iqra. Untuk menunjang program ini, kami menitikberatkan pencapaian pada hal-hal berikut ini :

IQRA : Target 80 persen telah menyelesaikan Iqra 6 –> siap Al Quran dengan kategori LANCAR (tidak terbata-bata) dan memahami mad (panjang-pendeknya huruf)

AL QURAN : Membaca dengan makhraj yang tepat, hukum, dan waqaf.

InsyaAllah dengan bantuan latihan di rumah, Ananda akan jauh lebih terlatih dan terbiasa dalam disiplin membacanya. Mudah-mudahan tahun ini tercapai, amin.

Walikelas 3 Zubair

Thia Utami

Ia Memang Pemberani!

courageAlhamdulillah, Sabtu, 12 September 2009 kemarin, kami seluruh jajaran SDIT Al-Muhajirin mengadakan acara Buka Puasa Bersama. Acara dimulai pukul 16.45 dengan diawali pembacaan Kalam Ilahi Surat Al-Baqarah ayat 261-263 dan 265. Qori oleh Teguh Khairudin dan Saritilawah oleh Ahmad Daffa. Keduanya dari kelas 4 Salman Al-Farisi.

Suasana banyak bertiup angin dan daun-daun berguguran. Tidak seluruhnya hadir namun acara tetap dilanjutkan.

Selanjutnya acara diisi dengan penampilan masing-masing 8 kelas. Salah satunya adalah kelas kami, 3 Zubair bin Awwam. Anda yang hadir pasti tahu siapa yang tampil. Ya, Satrio Gaus namanya. Lengkapnya, Muhammad Tata Satrio Gaus.

Ketika saya harus mencari siapa yang akan tampil dan apa yang akan ditampilkannya, kendalanya saat itu belum ada inspirasi. Awalnya ingin menampilkan putri-putrinya, tapi apa? Dicoba menari. Ternyata, kaset yang dicari tidak ada. Ya, sudah…putar otak lagi nyari ide. Sebenarnya ada waktu 3 minggu. Tapi ya lain kelas kan lain cara. Tahun lalu saya bisa bikin drama. Sekarang kan siswanya berbeda. Tapi satu yang pasti, walaupun beda tapi pasti harus ada yang memukau. Ini sulitnya.

Percaya? Sampai seminggu sebelum hari-H pun, saya belum ada inspirasi. Dua kali saya setor acara ke panitia untuk dirubah. Akhirnya saya pilih Story Telling alias bercerita. Awalnya ada 1 nama yang terbersit di benak saya. Wahyu. Besoknya, saya teringat ada seorang anak juga yang PD abis. Rio Gaus namanya. Akhirnya saya kasih 2 naskah cerita Keajaiban Basmalah.

Setelah melihat responnya, saya malah melihat Rio jauh lebih antusias daripada rekannya Wahyu yang justru pernah tampil di TV. Ya, saya tidak bisa memaksa. Namanya juga situasi masing-masing berbeda.

Selama 3 hari efektif, Rio berlatih. Banyak improvisasi bahkan mulai dari alur ceritanya yang agak sedikit belok, tapi muaranya sih tetap sama. Alhamdulillah, katanya di rumah juga dibimbing oleh Ayahnya.

Singkatnya, ketika gladi resik di kelas 1 Umar, Rio yang mendapat perhatian dan gelak tawa dari penontonnya. Saya berharap Rio bisa memberi angin segar saat penampilan nanti sore.

Hasilnya? Alhamdulillah…gelak tawa dan pandangan mata semua tertuju padanya saat ia bercerita. Lagaknya yang ekspresif dan PD luar biasa plus berani yang mantap, membuatnya menjadi bintang kecil bersinar di panggung itu. Itu cukup membuat saya bangga padanya.

Memang sebelum hari-H, Rio sempat bilang ada sedikit ragu, ada sedikit kebimbangan masa ia yang maju. Pernah juga maunya ditemani Wahyu. Saya maklum, namanya juga baru pertama kalinya, ia pasti merasa agak canggung juga. Hmm…bahkan beberapa menit sebelum tampil pun, ia sempat bergumam, “Bu, gimana nih Bu? Saya ditemenin Wahyu aja, ya?”

Akhirnya saya bilang, “Rio, kamu bisa berdiri di panggung sana bisa bikin bangga papa dan mama kamu lho! Kamu mau kan mama papa bangga?”

Ia mengangguk. Lalu saya bilang lagi, “Jangan malu-maluin Bu Guru deh, udah latihan tadi di depan panitia, kamu malah mundur.”

Akhirnya mantaplah Rio. Ya, ia memang berani. His mother thanked me. But honestly, he did it. He can make it! Selamat ya!

Libur ‘Tlah Tiba…

number_5

Liburan hampir tiga minggu lamanya sejak 14 September 2009.  Ba’da Idul Fitri 1430 Hijriyah ini, kita semua akan sibuk dengan segala aktivitas melepas kepenatan sekaligus menikmati perjalanan dan silaturahim.

Ada apa dengan 5? Ya, tanggal 5 Oktober 2009 nanti adalah waktunya kita semua, guru dan siswa akan menggeluti kembali kegiatan pembelajaran. So, silahkan berlibur dan ingat untuk mempersiapkan tanggal 5 nanti dengan optimal, sebagaimana kita memperlakukan tanggal 14 September 2009 yang akan hadir 4 hari lagi…pasti pada gembira dan penuh rencana. Sama! Tanggal 5 Oktober juga harus penuh rencana!!

Terakhir… Izinkan Kami Mengucapkan :

Shaking-Hands

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita keteguhan hati dalam menghadapi hidup dan menyelamatkan kita semua dengan RahmatNya di Hari Akhir kelak

Amin

Salam Hangat

Ayo Biasakan Membaca!!

hen1“Wah…berita hari ini apa, ya?”

“Wow, ternyata populasi teman-temanku selama puasa ini makin berkurang.”

Wah, semua umat muslim pada menyembelih aku nih lebaran nanti.”

“Hmm, tapi dasar manusia. Mereka bisa saja mengembangbiakkan aku dan teman-temanku!”

“Ha? Hargaku makin mahal, kereee…n!?”

Jum’at kemarin, kami di kelas 3 Zubair telah melaksanakan demonstrasi pencangkokan dan stek pada tanaman. Juga telah memperlihatkan jenis-jenis perkembangbiakan secara buatan pada tanaman di sekitar sekolah.

Saya pikir-pikir, ini pengetahuan memang tergolong cukup tinggi. Apalagi di Jakarta. Jarang menemukan tanaman yang mewakili pelajaran. Mencari belalang saja susah. Lapangan rumput makin habis. Anak-anak juga jarang memperhatikan lingkungan terutama tanaman.

Akhirnya saya juga menambahkan sedikit catatan yang telah dirangkum kemudian diperbanyak dan dibagikan kepada siswa. Saya meminta mereka membacanya selama sekitar 5 menit. Berkaitan dengan pembelajaran, saya membuat pertanyaaan yang harus mereka jawab sesuai dengan demonstrasi yang telah dilakukan dan kertas rangkuman yang telah mereka baca.

Ada hal yang saya amati. Banyak juga di antara mereka yang cukup kebingungan dengan bagaimana mengisinya. Apa jawabannya. Walhasil pertanyaan tinggallah pertanyaan padahal isinya jelas-jelas ada di rangkuman yang telah dibagikan. Saya tanya, “Kamu sudah baca belum?” kemudian dijawab, “Udah, Bu. Tapi bingung jawabannya yang mana?” “Lho, jawabannya kan ada di depan kamu. Masalahnya kamu harus berusaha lagi membaca dengan teliti.”

Akhirnya saya tunggu sampai mereka menemukan jawabannya. Memang membaca memiliki tingkatan tersendiri. Belum lagi tergantung dengan jenis bacaannya. Siswa di sekolah memang perlu jam tersendiri untuk membaca. Nah, di rumah jika ini tidak menjadi kebiasaan, wah…wajar kalau mereka cukup kesulitan memahami bacaan. Kebiasaan mendongeng misalnya. Mereka senang kalau saya sudah bercerita. Membaca sepertinya masih perlu dibiasakan di mana saja. Anak bisa memulai membaca dari sesuatu atau hal yang paling mereka suka. Itu saja dulu. Selebihnya biar bertahap. Yang penting mereka suka dulu dengan membaca.

Cobalah mereka membaca selama 15 menit. Lalu rutinkan. Sedikit demi sedikit. Lalu ajak lebih lama lagi. Ingat, membaca saja kadang kurang cukup. Mereka harus ditanya. Apa, siapa, mengapa, kapan, di mana, yang mana, dengan apa, bagaimana, dan lain-lain pertanyaan yang mengasah pemahamannya. Ini namanya mereka menyimak bacaannya atau tidak. Bahkan ketika berjalan-jalan pun atau sedang bersama keluarga, hendaknya proses tanya jawab itu sering dilakukan. Munculkan kebiasaan dialogis di antara orang tua dan anak. InsyaAllah ini akan menambah rasa percaya diri anak.

Jadi, ayo membaca dari sekarang. Mulailah. Lakukan. Dan lihatlah apa yang terjadi!

By: Zubair-CT at thiashafa@yahoo.com

‘Mental ‘ Matter : Mental Kerupuk vs Mental Baja

fistPada level I perkalian yang saya ajarkan, Alhamdulillah mereka semua mampu. Malah 98% mendapat seratus! Pada level II perkalian yang saya latih, Alhamdulillah tak jauh berbeda. Hampir 98% mendapat seratus. Namun yang menjai catatan saya adalah yang 2% sisanya ini malah anjlok seanjlok-anjloknya! Masa ada yang 8 soal salah dari 10. Wah, ada apa, nih? Usut punya usut, saya panggil salah seorang siswa yang bikin ‘catatan’ ini.

Saya tak banyak menginterogasinya. Saya hanya minta ia duduk di sebelah saya dan menjawab apa yang saya tanya. Soal saya tulis ulang, namun dia yang menjawab. Tak apalah kali ini saya yang menuliskan untuknya. Saya tanya, “2 kali 3 berapa?”

Dia jawab, “Ehmm…6 bu.”

“Bagus. Terus, kenapa kamu nulisnya dua belas, Mas?!” tanya saya.

“Hehehe…”

“Mas, 9 x 2 berapa?” lanjut saya.

“Ehm…16, Bu. Eh, 18, Bu!” jawabnya.

“Ya. Lantas kok kamu nulisnya 9 gini?” tanya saya lagi.

“Hehehe…ga tahu, Bu!” jawabnya dengan seenaknya.

“Oke. Jujur aja, deh. Tadi level I kamu dapat 98. Sekarang cuma nambah angkanya aja, padahal sama-sama aja sama yang level I, kok jawabannya ‘kesasar’ jauh amaaa…t?” tanya saya penasaran. “Kamu jawabnya asal-asalan, ya??!”

“…ehmm…iya, Bu.” jawabnya polos sambil tersenyum.

Praktis, saya hanya geleng-geleng kepala.

Lain dia, lain juga temannya. Ketika saya koreksi, ternyata saya tidak tega memberinya nilai. Akhirnya saya panggil ia untuk memperbaikinya kembali. Karena saya super penasaran, masalahnya dimana. Akhirnya saya tunggu sampai selesai, sebut saja si X, ternyata dia cukup bisa, kok. Usahanya saya beri nilai yang membuatnya tersenyum. Ketika Level II, penyakitnya kambuh. Sama. Jawabannya kesasar semua. Hanya beberapa angka. Tapi ya, yang namanya Matematika, satu angka salah bisa besar efeknya. Ya, tetap salah. Namanya juga ilmu pasti. Jawabannya kudu pasti.

Akhirnya, saya minta dia perbaiki lagi. Saya tunggu saja dia. Saya tidak banyak mengarahkan. Setelah selesai 10 soal…nyatanya dia mampu juga kok. Setelah saya renungkan, nih anak rupanya benar-benar butuh perhatian besar dan super. Masa saya tungguin bisa, pas ditinggal amburadul gitu.

Akhirnya saya pikir ini masalah mental. Ketika level naik sedikit, mental anak mulai kelihatan. Ada yang ngasal, ada yang tidak serius. Alhamdulillah masih lebih banyak yang cukup konsisten. Ya, memang namanya anak kelas 3 belum sepenuhnya paham yang namanya tanggung jawab. But, mereka perlu belajar, khan? Saya sampai bilang ke si-X ini: Nak, kamu sepertinya tadi ga’ ngitung ya?” Kepalanya cuma diangguk-anggukkan saja.

Lagi-lagi saya hanya menggeleng.

Mental. Jiwa. Satu sisi yang ternyata menjadi PR kami. PR para pembimbing macam guru dan orang tua. Kenapa? Mental memang menjadi masalah utama bangsa ini sejak dulu. Tidak habis pikir sampai banyak orang yang malah berlomba-lomba menjadi pengemis (sampai-sampai ada fatwa haram). Mengapa malah bangga menjadi orang yang tangannya di bawah daripada sebaliknya? Ini jelas masalah mental, Mental Matter. Miskin jiwanya, miskin badannya, Indonesia (belum) Raya…. :)

Nak, kalian semua harus semangat, pantang menyerah, tangguh, jantan, adil, dan jujur. Kalian adalah penerus kami. Kalian harus jauh lebih baik dari kami. Ibu pun tidak akan menyerah. Selama Ibu, masih bisa bernafas, masih bisa berjalan, Ibu slalu memberi apa yang Ibu bisa. InsyaAllah dengan KuasaNya dan Ilmu-Nya. Ingat kaan…Ibu selalu bilang di depanmu, “Ya, Allah…bimbing kami…supaya kami diberi kecerdasan dan mampu mengerjakan dan berusaha…” Kalian jawab, “Aminn.”

So, selamat tinggal mental kerupuk, selamat datang mental Baja!

by: Zubair-CT

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.