Kebahagiaan Itu Terjawab Sudah

Bu Haning, Fina (Bu Han’s daughter), Bu Wanti, Bu Thia

Sebagaimana tertera di footnote foto di atas, inilah sebagian dari foto-foto kami (lihat posting foto sebelumnya) dalam perjalanan ke Trans Studio Bandung.

Perjalanan ini merupakan perjalanan penutup Angkatan I SDIT Al Muhajirin yang diprakarsai 100% oleh para orang tua 6 Saad dan Abdullah yang luar biasa! Here they are!

Ki-Ka: Bunda Devita, Bunda Haikal, Bunda Gibran, Bunda Kania, Bunda Okky, Bunda Afni

Kebahagiaan di wajah mereka terpancar sebagai tanda keikhlasan yang luar biasa. Kami sangat apresiasi dengan semangat kerja yang ‘amazing’. Memang bukan lokasinya yang kami kedepankan, namun lebih kepada momen kebersamaan kita bersama yang harus tercipta.

Tiada kata yang pantas kami sampaikan kepada Allah SWT atas segala kesempatan pertemuan dan kebersamaan kami bersama anak-anak yang luar biasa, and the parents, as well.

Kami bahagia dapat mengantarkan anak-anak kami menuju gerbang kesuksesan yang semakin nyata. Pendidikan yang mereka terima mudah-mudahan menjadi bekal yang berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka, terutama jiwa dan mental mereka. Amin.

Doa kami untuk semua.

Love is You!

SDIT Al Muhajirin Teachers

SDIT Al Muhajirin Teachers

Pose sebelum pulang dari Trans Studio Bandung

Our Precious Moment of 1st Graduate 2011-2012

Our Precious Moment

SDIT Point of View for 2012

Tahun 2012, menjadi tahun yang perdana bagi kami. Tahun 2012, Insya Allah adalah tahun perdana Angkatan Pertama SDIT Al Muhajirin, Jakarta Utara. Terbilang baru, ya. Belum mapan, akan. Belum kelihatan, akan visible suatu hari. Yang pasti, akan ada banyak perubahan di tahun ini. Tentu tidak tahun ini saja. Perubahan selalu terjadi setiap detik.

VISIBLE

Justru karena perubahan itulah, kami meyakini bahwa sesuatu itu harus visible (kelihatan). Murid jelas ada, sarana fisik ada, guru ada, komite ada, orang tua ada, semua terlihat, bahkan pelayanan pun seharusnya visible dan atau feel-able . Karena kalau tidak kelihatan, angan-angan namanya. Impian saja harus jelas. Salah satu hal yang patut terus diperbaiki oleh sekolah adalah visible dalam pelayanan. Salah satunya adalah pelayanan dalam mempersiapkan angkatan demi angkatan menjadi lulusan yang dapat diandalkan.

Semoga pelayanan kami dari segala sisi dapat kami perbaiki dan tingkatkan tanpa henti. Kritikan membangun, usul, solusi, semua itu sejatinya membangun diri kami. Tidak hanya mengandalkan eksternal namun juga kami berjuang secara internal. Kalau perlu semua celah. That’s our 2012 begins!

KERJASAMA

Sering kita mendengar, guru adalah pengganti orang tua di sekolah. Bedanya? Salah satunya adalah, nilai dan penerapannya (satu paket). Kami menyediakan sekolah yang bukan lip service mendidik an sich. Namun kami menyadari benar bahwa kami sedang memberikan TAMBAHAN atau PELENGKAP dasar bagi apa yang ‘sudah’ atau ‘sedang’ ditanamkan di keluarga. Terlepas bagaimanapun lingkungan keluarga, sekolah memang sarana formal/informal untuk mengisi celah itu. Jadi wajar saja sekolah menjadi harapan ‘perubahan sikap anak’.

Paling tidak suport atau dukungan orang tua pada siswa atau anak merupakan hal terbaik yang mereka terima. Dukungan seperti apa? Minimal mengatakan, “Ya, kamu bisa.” Memuji, memberi jalan keluar yang sesuai dengan masalah mereka. Seringkali kendala yang ada antara orang tua dan anak (meski tidak semuanya) adalah di antara mereka sendiri kurang kerjasama, antara anak dan orang tua. So, cobalah lakukan pendekatan yang lebih komunikatif, heart to heart.

Kerjasama lainnya yang tak kalah pentingnya bagi kami adalah ‘kerjasama’ baik dengan Sang Khalik. Kita telah se-visible mungkin untuk mempersiapkan lulusan, mengenalkan medan, teknis dan lainnya, maka kerjasama lainnya adalah persiapan mental. Perlu kami garisbawahi, bahwa kami tidak semata-mata mencari materi, pendidikan kami lebih mengedepankan dua-duanya. Maksudnya, bukan materi orientid. Bukan. Materi itu sarana. Jadi urusan yang penting sebenarnya mental. Setidaknya kita jangan pernah melupakan bagian itu. Bukankah masalah utama kebanyakan kita adalah ketahanan dalam menghadapi masalah? Itu mental, khan? Nah, membina mental ini yang kami juga garap.

Ambil contoh kelas 6. Pendalaman Materi memang perlu, wajib. Hal yang kami juga persiapkan adalah pembinaan mental. Syukur Alhamdulillah, kami sangat senang dengan jawaban siswa-siswa kelas kami yang menjawan TIDAK TAKUT menghadapi UN. Lantas kenapa kebanyakan orang tua bahkan guru (terlalu) khawatir, ya? Mental memang harus kita benahi mulai dari kita semua. Mental itu menular lho, seperti virus. Jadi, milikilah mental sekuat anak-anak tadi, berani mengatakan untuk yang tidak perlu ditakuti.

Takut? Wajar (aneh kalau tidak takut); karena itu bukan untuk dihindari, tapi dihadapi, diatasi. Dan UN bukan untuk membuat anak jadi TAKUT, malah harus siap sedia. Kami sedang menanamkannya.

Justru kami takut kalau kami tidak melakukan dan memperhitungkan dengan cara yang benar. Kami berusaha sekuat tenaga dengan kejujuran dan sesuai prosedur (aman dunia akhirat) untuk mensukseskan lulusan kami. Insya Allah.

Indahnya Memberi

by: tiut

Semoga belum terlambat untuk saya mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada murid-murid saya yang ‘Super’. Pertengahan Februari ini mereka mengejutkan saya dengan ‘skenario’ buatan mereka. Hari itu entah mengapa satu per satu -ini bukan skenario- bertanya kepada saya kapan saya mengajar di kelas lain. Ada tiga anak putri yang bertanya. Pikir saya, kenapa tumben mereka tanya? Padahal mereka tinggal lihat di jadwal yang memang tertempel di depan meja ‘kerja’ saya.

Lucunya lagi Haikal, baru sampai di kelas, langsung tangan saya dijabatnya sambil mengucapkan selamat ulang tahun segala! Haa…spontan saya tertawa dan benar-benar bilang bahwa saya hari itu bukan hari ultah saya. Haikal masih keheranan sambil se-PD mungkin mengatakan bahwa saya hari ini ultah. Aneh!

Pagi itu pula, sehabis istirahat, mereka sepertinya bermaksud ‘menjebak’ saya. Mereka bilang ada yang berkelahi. Tapi saya heran, karena raut wajah mereka yang melaporkan tidak terlihat cemas atau khawatir. Langsung saya masuk kelas sambil bertanya, “Mana jagoan yang berantem?”

Spontan mereka pada teriak, “Sebenarnya enggaakk… surprise!!!” Saya jadi bingung tidak bisa bicara apa-apa lagi. Lha, emang tidak pernah saya duga. Ada apa?

Tiba-tiba saja Saras, sepertinya bertugas mewakili teman-temannya yang lain, menyodorkan sesuatu ke hadapan saya. Saya tercenung lagi, malah saya terduduk, sambil tetap bilang, dengan polosnya, “Apa ini? Beneran deh, bukannya GR, tapi ini dalam rangka apa ya?? Saya tidak ulang tahun nih hari ini.”

Saras menjawab bahwa katanya memang ini bukan untuk itu. Belum selesai Saras menjelaskan (kalau tidak salah) Wiwid menghampiri saya lagi sambil menyodorkan sesuatu. Ampuunn…saya jadi makin speechless. Alhasil semakin saya berpikir malah semakin tidak penting. Yang penting saat itu saya mengerti tindakan mereka.

Saras melanjutkan katanya karena akhir-akhir ini kelas Hamzah sering ‘kena omel’ guru. Jadi, katanya ini sebagai hadiah saja karena kelas kita lagi sering dimarahin.

Senyumlah saya. Saya bisa bilang apa? Selain terima kasih dan penghargaan pada mereka karena mereka telah bersusah payah melakukan ini semua. Saya bilang mereka tidak perlu begini, yang penting apa pun keadaan kita, kita bisa menerima dan mau memperbaiki diri. Sebagai penutup saya katakan, “Oke, ini semua Bu Thia terima dan pasti dipakai!” Mereka langsung, “Yeee……”

Saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Saya berterima kasih pada mereka semua. Saya melihat di mata mereka betapa senang mereka melakukannya, maka saya bisa bayangkan bila saya menolaknya. Pasti sedih, karena itu juga yang saya rasakan.

Tahun ini saya diberi amanah untuk mendampingi mereka selama satu tahun ke depan hingga Juli 2011. Hingga Allah kehendaki mereka naik kelas VI, InsyaAllah. Lama memang saya (kami) tidak menulis berita terkini tentang kelas-kelas kami. Namun semoga momen ini bisa semakin memperkaya khasanah bahwa pengalaman kami mendidik ini memiliki arti yang istimewa. Lebih dari sekedar mendidik. Namun persahabatan, kasih sayang, aral, saling perhatian, semuanya mewarnai langkah kami.

Saya melihat sebagian mereka telah dewasa. Yah, bisa dibilang demikian. Sudah mulai melihat lawan jenis, mulai menyukai lawan jenis, dan semakin berani bersikap (meskipun ini yang sering saya nasihati) agar semuanya dikemas dengan kesantunan.

Sekali lagi, terima kasih telah melibatkan saya dengan ‘indahnya memberi’. Karena semua ini adalah jalan jika ingin berbahagia. Bukan saling menuntut. Kita yang saling memahami. Kalau dipikir-pikir, saya pun tidak pernah menduga bakal begini kejadiannya. Maka semua tentu kembali kepada Allah SWT yang menggerakkan alam ini. Semoga hati kita semua dipertautkan karena cintaNya, amin.

Thank you. dear! I love you.

Panggung Itu Tetap Milik Kami

Ready in Action!

[Hamzah, 2010] by t.i.u.t

Kamis, 4 September 2010 lalu, Alhamdulllah sekolah kami telah mengadakan acara Pesantren Ramadhan 1431 H yang dimeriahkan dengan kegiatan pentas seni & kreasi anak mulai kelas 1 hingga kelas 5. Diselingi dengan rintik gerimis yang sedikit menggelitik kami hingga harus menyingkir dari arena penonton. Namun itu semua menjadi kekhasan acara Ifthar Bersama tahun ini dan tentu Alhamdulillah tidak mengurangi rasa semangat siswa-siswi kami dalam menampilkan karya mereka yang terbaik.

Kali ini, kelas kami -5 Hamzah- mendapat giliran terakhir, bersama pula dengan rekan kami di kelas 5 Khalid. Persisi Maghrib, kami masih in action. Rupanya waktu memang sangat terbatas. Akhirnya kami memang punya kenangan sendiri di sini. Memang penontonnya sudah berada di kelas masing-masing berhubung gerimis. Jadi yang menonton pastinya hanya para orangtua Hamzah serta beberapa guru. Alhamdulillah kami tetap semangat meski kami mesti gantian untuk berbuka. Hebatnya, kami pun berbuka saat di panggung, sesaat sebelum kami semua naik panggung untuk salam akhir, kami makan malam pun di panggung. Alhasil, kami menghibur diri kami sendiri setelah latihan kami selama kurang lebih selama 2 minggu.

Terima kasih atas perhatian kalian semua sore itu, kami sangat menghargainya. Kami bahagia dengan hasil yang kami capai. Kami tetap bersyukur bahwa usaha kami tak sia-sia. Bagaimanapun, walaupun di penguhujungnya kami tampil, namun panggung itu tetap milik kami. Tetap semangat, ya! Lain kali kami akan siapkan kejutan yang lebih wah lagi!

Salam ‘Singa Padang Pasir’

Zubair BTQ Final Season 2010***

Suasana KBM PAI di Kelas 3 Zubair

by: tiut_Zubair CT

Kamis lalu, memang hari KBM terakhir. Meskipun hingga saat tulisan ini dimuat, kami belum mendapat kepastian tentang UKK Dikdas yang sedianya menurut kalender akademik tahunan jatuh pada tanggal 14 Juni nanti. Jika ya, maka KBM masih 1 minggu lagi sejak 7 Juni nanti selama 5 hari terakhir hingga 11 Juni.

Program BTQ di kelas Zubair Alhamdulillah mengalami kemajuan yang menurut kami sungguh menggembirakan. Tinggal 8 siswa yang harus berjuang lebih keras lagi untuk menyusul rekan-rekannya yang telah lebih dahulu membaca Al Quran. Berikut ini para pejuangnya:

  1. Ali Zainal Abidin***
  2. Calista Athaya Fionanda
  3. Fadlan Haramain
  4. Muhammad Tata Satrio Gaus
  5. Muhammad Tawakal Fikri Tuharea
  6. Rafli Hendikesta
  7. Shira Riana Allen
  8. Wahyu Riansyah

Rio “HambaAllah” Abdullah. Mulanya pria cilik ini berperawakan kurus, termasuk laki-laki yang ‘cool’. Awalnya memang agak kaku mungkin karena memang bawaannya malu-malu. Namun dengan semangatnya, akhirnya Alhamdulillah Minggu kemarin (tepatnya Jumat, 21 Mei 2010), Rio telah membaca Al Quran. Kami bahagia sekali melihatnya bahagia yang terpancar dari raut wajahnya yang semu-sipu malu. Keesokannya, Rio memang membawa Al Quran, karena jika tidak dia akan tetap membaca Iqra. Alhasil, sesuai janjinya, ternyata ia membawa Al Quran. Sungguh kado yang membahagiakan kami di musim terakhir kami di Zubair. Selamat, ya, Rio-ku…

Ali Zainal Abidin. Perawakannya tinggi (untuk seusianya), kulit agak coklat gelap (hehe…manis, kok), rambutnya yang jabrik menjadikannya sosok yang paling mudah dikenali. Hobi berenang setiap Sabtu. Ali*** artinya yang paling semangat dalam membaca Iqra. Dia mulai dari Iqra 2 1/2 kalau tidak salah karena awalnya cukup berantakan mendengar bacaannya. Namun Ali ini memang gigih nian. Biar Bu Thia-nya rada ‘sedikit galak’ (hehe…supaya dia ngerti juga jangan malas kalau merasa tidak bisa, karena Bu Thia nih geregetan kalau melihat anak yang loyo semangatnya dan merasa malas meneruskan…). Sekarang baru selesai Iqra 5 akan beranjak ke Iqra 6. Rupanya Ali ini semakin ‘gila’ baca Iqra (bahkan pernah sampai 3x sehari) sejak makin tahunya Rio Abdullah diloloskan ke Al Quran oleh Bu Thia. Hmm…makin panas juga Ali ini. Namun positif tentunya… Selamat, ya Ali!

Bukannya kami tidak ingin menceritakan satu persatu permata hati kami di Zubair. Namun tentu sangat banyak yang akan kami ungkap dan akan jadi terlalu banyak juga ceritanya. Yang pasti kalian semua telah berusaha luar biasa. Baik membaca dan menulis kalian telah lalui dengan baik. Terima kasih atas kerjasama dan partisipasi kalian semua dalam satu tujuan yang mulia demi masa depan cerah ceria. Kita masuk kelas 3 Zubair dengan happy, maka kita akhiri jua dengan happy ending. Selamat atas usaha keras kalian dan kita semua. Bu Thia dan Bu Byah bangga pada kalian!

Salam Semangat!!

Thia & Byah_Zubair CT’s