Calm down, my Fadlan!

calm-down-introPagi menjelang siang, hari itu 6 Agustus 2009, kelas kami 3 Zubair sedang ada jam pelajaran olahraga. Ya, selepas jam pelajaran olahraga-yang sedianya dibimbing oleh Pak Bharetto (yang sedang ‘nyelam’ ke Laut Banda dalam rangka 17 Agustus-an kemarin)-seperti biasa, saya yang tengah membimbing mereka beraktivitas lepas. But, exactly, it is not what I’m going to share here

Saya sedang bermain bulutangkis dengan Vyati, murid saya di 3 Zubair. Beberapa siswa (sekarang peserta didik) memanggil-manggil saya sambil berkata bahwa ada yang berkelahi. Saya tanya siapa? Mereka menjawab, “Fadlan dan Aldi, Bu!” Segeralah saya mencari di manakah gerangan mereka.

Tak lama, dari koridor, saya melihat muridku Fadlan sedang terduduk sambil menundukkan kepalanya. Saya lihat Aldi ada di seberangnya, sedang meringis dan menitikkan air matanya. Seketika itu saya menanyakan keadaannya, sepertinya hanya sedikit memar ringan. Ya, seperti biasa, kalau anak-anak ditanya sebabnya, rada kurang jelas. Agaknya perlu dilakukan ketika sedikit lebih tenang. Berhubung keduanya cukup emosi, ya, saya tinggal dulu mereka.

Beberapa saat kemudian, saya melihat Aldi cukup tenang. Saya tanyakan ‘kronologis’ kejadiannya (saya tahu mereka gak akan paham apa itu kronologis). Bla…bla…bla… intinya tahulah saya ‘versi’nya Aldi. Berikutnya, saya tanyakan pada Fadlan. Bla…bla…bla… intinya saya paham posisinya.

Actually, I will not tell you all about the real matter. Yang terpenting adalah apa yang saya sikapi dengan Fadlan-ku ini. Istimewa dia. Karena Fadlan ini kalau ada masalah harus selesai supaya tidak terbawa-bawa. Bagusnya, Fadlan ini mau kerjasama. Saya duduk di depannya, saya sejajarkan badan saya agar pandangan mata saya hanya tertuju padanya, dan saya bungkukkan lagi agar ia merasa ‘selevel’ dengan saya, tepatnya malah agar saya ‘selevel’ dengannya.

Anak juga memiliki harga dirinya. Dan itulah yang saya gunakan. Menjaga harga dirinya, jangan sampai ia merasa tak nyaman dengan keberadaan saya. Saya tidak langsung mencecarnya dengan pertanyaan. Ya, sekitar semenit-dua menit, saya hanya duduk di depannya, sambil mengelus-elus telapak tangannya agar tenang. Insting saya yang bilang begitu. Kalau dia melepaskan tangannya, berarti dia belum bisa menerima kehadiran saya. Alhamdulillah, dia membiarkannya. Ini jadi celah saya.

Saya berbincang ringan dengannya. Segalanya telah saya dengar. Saya senang ada komunikasi di antara kami. Saya selalu memegang dagunya jika dia mengalihkan pandangannya. Sesekali dia benar-benar tertunduk. Setiap saya selesai dengan apa yang berusaha saya sampaikan, saya selalu mengangkat dagunya dan berkata,”Fadlan, kamu lihat mata Ibu.”

Lalu ia melihat saya 3 detik saja. Saya teruskan lagi, “Fadlan paham, kan maksud Ibu?”

Kepalanya dia tundukkan lagi. Kali ini dalam. Saya lihat air matanya jatuh. Sambil berkata parau. Saya mendenngarnya, saya bilang, “Ibu dengar Fadlan.”

Setelah semuanya saya sampaikan ada satu poin penting yang harus menjadi pamungkas masalahnya dengan Aldi, yaitu ma’af. Saya tidak tahu apakah Fadlan bisa memulainya. Kalau Aldi tipikal yang bisa lebih cepat alias nurut-lah. Kalau Fadlan, dia punya sifat yang agak keras dan tidak bisa dipaksa.

Saya hanya berkata pelan, “Fadlan, Ibu sudah mendengar semuanya. Memang berantem itu biasa, tapi tidak semua hal harus kamu selesaikan dengan berkelahi. Aldi juga sama. Kalau dua-duanya berantem, lantas ga’ ada yang sabar, terus yang benar yang mana, dong? Ibu tidak bilang bahwa Aldi benar dan Fadlan salah. Juga bukan Aldi salah Fadlan yang benar. Itu sudah lewat. Sekarang yang penting Fadlan sama Aldi bisa baikan lagi. Caranya hanya satu, ma’af. Eit…tapi Ibu paham kamu Fadlan. Kamu pasti tidak suka dan tidak mau dipaksa, kan? Sama, Ibu tahu rasanya karena Ibu juga paling tidak mau dipaksa. Rasanya jadi tidak ikhlas. Ibu paham banget Fadlan tidak mau dipaksa-paksa. Itulah kenapa walaupun sekarang harus minta maaf, Aldi sudah siap, sekarang tinggal Fadlan, siap apa enggak. Ibu berharap Fadlan mau saling minta maaf, hanya jika Fadlan rela, Fadlan ikhlas, gak merasa dipaksa. Oke, Fadlan? Ibu tidak maksa Fadlan, ya. Mintalah maaf hanya kalau Fadlan rela. Nah…ibu tinggal ya. Ibu percaya Fadlan!” Sambil saya pegang (tepuk) pundaknya.

Saya berdiri pelan. Fadlan pun berdiri dan perlahan menjauh. Saya tinggalkan mereka. Saya tidak memata-matai mereka hanya untuk memastikan bahwa mereka saling meminta maaf. Saya kembali melakukan aktivitas saya. Ketika saya akan ke tempat wudhu, saya lihat Fadlan sedang main bola. Ada Aldi yang tengah melihat mereka sambil tersenyum. Saya hanya berkata dalam hati, syukurlah Aldi sudah tertawa. Mudah-mudahan sudah selesai. Tapi dasar saya suka menggoda mereka, saya bilang, “Eh, Aldi, perasaan tadi kamu berantem, deh! Sekarang ‘dah ketawa, ya?” Aldi cuma senyum. Saya meneruskan arah, melewati Fadlan. Saya sih tidak menggoda Fadlan. Tapi setelah saya melewatinya, Fadlan memanggil saya dan berkata,

“Bu! Ibu!” panggilnya.

“Ya, ada apa, Baang..?” tanya saya sambil menoleh.

“Bu, tadi aku udah minta maaf ama Aldi, Bu.” sahutnya.

Karena saya terpana mendengarnya, saya minta dia mengulangnya lagi,

“Bu, aku tadi udah minta maaf sama Aldi.” ujarnya senyum.

Saya langsung mengangkat dua tangan saya sambil berkata, Alhamdulillah….! Itu baru oke banget!! Terima kasih, ya…!

Sejenak saat saya menulis tulisan ini, saya teringat Kevin. My Kevin…! Where are you my honey? I really miss u so much, dear. Ibu teringat permasalahan mu yang pertama kali Ibu coba bantu. Persis yang Ibu lakukan kali ini dengan Fadlan. Kamu tulus mau minta maaf…

So…perbincangan saya dengan Fadlan sungguh sangat saya hargai. Saya bahagia karena sedikit membantunya mengatasi masalah. Membuka komunikasi itu memang tidak mudah. Apalagi jelas, saya bukan orang tuanya. Siapa toh saya? 🙂 Namun saya hanya berdoa supaya saya bisa membantunya. Karena semua juga tahu, saya belum punya anak. Tentu ini bagian psikologis yang tidak mudah buat saya. Saya memperlakukan siswa saya dengan pribadinya masing-masing. Mereka adalah anak-anak yang juga punya jiwa yang ingin mengkomunikasikan keinginannya, hanya caranya yang tidak mereka tahu atau pahami. Mereka belum tahu akibatnya. Jadilah saya fasilitator mereka. Alhamdulillah. Semoga Allah bantu mereka, bimbing mereka menjadi anak yang shalih. Amin. Bravo Fadlan!! You are great!

Written by : Zubair-CT (thiashafa@yahoo.com)– please willingly, visit http://www.tiutblog.wordpress.com

But, exactly, it is not what I’m going to share here
Iklan

3 responses to this post.

  1. Posted by sdit almuhajirin on Agustus 22, 2009 at 1:56 pm

    Please correct me if there is something unconfinient. Thank u

    Balas

  2. Posted by rina on Maret 31, 2010 at 3:31 pm

    3 kata untuk ibu ……………..
    ibu memang hebattt……………
    anak saya 3 orang tapi rasanya seperti punya anak 3 kompi rame n ribut sekali. Kayaknya saya harus banyak belajar nih sama bu tia untuk bisa jadi penengah bagi mereka.

    Balas

  3. Subhanaallah……perjuangan seorang guru emang luar biasa melelahkan akan tetapi pahalanya DUNIA AKHIRAT….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: