Pembelajaran Bermakna ala Bu Thia

Tunas CangjoAda-ada saja momen di kelas kami, 3 Zubair. Hari itu saatnya saya menyampaikan kepada peserta didik saya tentang percobaan pertumbuhan tanaman kacang hijau yang telah kami tanam masing-masing seminggu yang lalu.

Ada tiga perlakuan. Pertama, benih yang diletakkan di tempat terang dan disiram dan benihnya banyak. Kedua, benih yang diletakkan di tempat terang tapi tidak disiram. Ketiga benih yang diletakkan di tempat gelap dan disiram. Saya mengambil salah satunya dari masing-masing perlakuan. Kemudian mulailah saya menyampaikan umpan balik berupa tanya jawab sehingga mereka mampu sedikit lebih belajar berpikir. Mau lama, mau cepat mikirnya, pokoknya saya nantikan.

Saya menghendaki pembelajaran yang bermakna bagi mereka. Saya memulai pertanyaan umpan dengan bertanya, apa sih bedanya ketika tanaman ini. Ya, awalnya mereka tahu itu berbeda semua. Masalahnya mereka bingung bagaimana mengungkapkannya. Bayangkan, padahal mereka sedang belajar pertumbuhan tanaman. Tapi ada pembelajaran lain yang saya lihat mereka berusaha keras. Saya berharap mereka paham yang saya harapkan. Mereka berusaha belajar mengungkapkan pendapat mereka, dengan bahasa mereka sendiri. Nampaknya mereka belajar sesuatu dari sini.

Ya, tanya jawab pun berlangsung. Saya bersyukur mereka mulai terpicu dan terpacu untuk berani mengungkapkan pendapat mereka meskipun belum tepat. Sampailah ketika saya menjelaskan makna pertumbuhan. Saya mengambil contoh pertumbuhan kacang hijau yang ditanam sangat banyak, padat dalam satu gelas mineral. Ada hampir 2 sendok makan ditanam. Tumbuhan ini adalah percobaannya Vyati. Alhamdulillah tanaman ini yang diberi perlakuan yang pertama.

Tanaman tumbuh sangat padat, subur, hijau, dan ‘menggemaskan’. Yang akan saya ceritakan di sini adalah betapa lucunya wajah anak-anak waktu mendengar saya bercerita dan demo kecil-kecilan. Saya pakai metode cerita tentang adanya tanaman yang mati, ada yang bertahan, ada yang setengah bertahan, ada yang paling unggul. Nah, itu semua saya ceritakan sambil membuat perumpamaan bagaimana kacang hijau-kacang hijau ini adalah mereka semua. Bu Gurunya sudah menyiram, pelajaran diberikan, tapi semua terserah mereka. Ada yang menyerah, ada yang segan, ada yang malas, ada yang rajin, ada yang maju, dan lainnya. Sontak hati saya tersentuh ketika saya bercerita begitu, ternyata mereka cukup menganga karena cerita saya. Saya juga mengibaratkan yang menyiram mereka adalah ayah bundanya. Ya, mudah-mudahan mereka bisa mengambil hikmahnya.

Saya ingin apa yang mereka lakukan dengan tanaman ini ada hikmahnya bagi diri mereka sendiri. Bukan suatu kejadian yang terpisah. Bahwa alam ini adalah bagian dari mereka. Bahwa saya ceritakan jika tanaman ini juga makhluk Allah yang juga hidup indah bila yang merawatnya juga baik dan rajin. Nampaknya mereka senyum-senyum saja karena sadar ada yang merawatnya ada juga yang tidak, ada juga yang sekadar tahu alias cuek. Ya, itulah esensi tema kami kali ini, Menyayangi Makhluk Hidup.

Saya juga bercerita bagaimana tumbuhan ini tumbuh dari biji yang bulat lonjong hingga menjadi tumbuhan lengkap. Ini semua karena Kuasa Allah SWT. Well, lagi-lagi mereka nga-nga lagi ketika saya bilang, begitu juga kalian dan saya. Kita semua awalnya diciptakan tidak memiliki apa-apa, Nak. Tapi lewat ayah bunda kalian, Alhamdulillah kalian sehat dan kuat. Jadi saatnya kalian melakukan yang terbaik semampunya.

Demo akhir yang saya tunjukkan adalah ketika saya menggenggam semua batang tanaman muda ini menjadi satu dalam genggaman saya. Saya tegaskan kepad mereka, saya tanyakan, “Bagaimana kalau Ibu angkat ini tanaman? Maaf yaa…ini harus Ibu lakukan bukan untuk menyakiti tanaman.”

Vyati nampak heran dan sempat bilang, “Jangan, Bu. Nanti jadi rusak.”

Saya tersenyum, nampaknya mereka mulai terbawa perasaan. Ada juga yang bilang ‘nanti jadi mati’ dan lain-lainnya. Akhirnya, sambil bergaya macam Joe Sandy dan Romy Rafael…saya bilang ini bukan magic, tapi ini nyata.

Saya angkatlah semua rumpun itu dalam genggaman tangan saya. Hasilnya? Hahaha….mereka semua tambah menganga!! Subhanallah! Padahal ini bukan hal yang aneh buat kita yang dewasa, namun jadi tontonan yang menarik buat mereka. Ya, bagaimana mereka tidak menganga? Kalau mereka melihat sekumpulan tanah yang melekat pada seluruh akarnya mampu terangkat sebagai satu keseluruhan. Nampaknya bingung juga mereka kok bisa begitu. Kok tidak jatuh. Kok akarnya nempel. Kok…kok…dan kok yang lain. Artinya? Mereka mulai berpikir. Celah inilah yang saya ambil untuk mengaitkan pelajaran yang lalu tentang manfaat hutan, kok disebut bisa menjaga banjir dan menahan air. Hingga saya hubungkan inilah contoh hutan kecil. Kalau kita tebang, akarnya tidak hidup, sehingga tanah tidak bisa ditahan akar tanaman, akhirnya longsor, deh.

Well, kalau sudah menganga begitu, saya jadi bersyukur semoga mereka mendapatkan apa yang disebut sebagai meaningfull learning. Memang agak ribet tapi itu yang namanya meng-create thinking process. Cape sedikit tapi saya merasa pol. Dibilang puas pasti belum lah. Namun cukup berarti juga buat saya kalau sampai bikin wajah mereka terpana.

So….Get ready to get another amaze thing forward.

2 responses to this post.

  1. Wunderful bu Thia, saya pun turut ternganga membacanya. InsyaAllah saya bisa menerapkan ini (bercerita sambil belajar) kepada anak2 saya di rumah.

    Salam
    Nela (bunda Debby kelas 1 Abu Bakar)

    Balas

  2. Aku ingin slalu bisa terus belajar

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: