‘Mental ‘ Matter : Mental Kerupuk vs Mental Baja

fistPada level I perkalian yang saya ajarkan, Alhamdulillah mereka semua mampu. Malah 98% mendapat seratus! Pada level II perkalian yang saya latih, Alhamdulillah tak jauh berbeda. Hampir 98% mendapat seratus. Namun yang menjai catatan saya adalah yang 2% sisanya ini malah anjlok seanjlok-anjloknya! Masa ada yang 8 soal salah dari 10. Wah, ada apa, nih? Usut punya usut, saya panggil salah seorang siswa yang bikin ‘catatan’ ini.

Saya tak banyak menginterogasinya. Saya hanya minta ia duduk di sebelah saya dan menjawab apa yang saya tanya. Soal saya tulis ulang, namun dia yang menjawab. Tak apalah kali ini saya yang menuliskan untuknya. Saya tanya, “2 kali 3 berapa?”

Dia jawab, “Ehmm…6 bu.”

“Bagus. Terus, kenapa kamu nulisnya dua belas, Mas?!” tanya saya.

“Hehehe…”

“Mas, 9 x 2 berapa?” lanjut saya.

“Ehm…16, Bu. Eh, 18, Bu!” jawabnya.

“Ya. Lantas kok kamu nulisnya 9 gini?” tanya saya lagi.

“Hehehe…ga tahu, Bu!” jawabnya dengan seenaknya.

“Oke. Jujur aja, deh. Tadi level I kamu dapat 98. Sekarang cuma nambah angkanya aja, padahal sama-sama aja sama yang level I, kok jawabannya ‘kesasar’ jauh amaaa…t?” tanya saya penasaran. “Kamu jawabnya asal-asalan, ya??!”

“…ehmm…iya, Bu.” jawabnya polos sambil tersenyum.

Praktis, saya hanya geleng-geleng kepala.

Lain dia, lain juga temannya. Ketika saya koreksi, ternyata saya tidak tega memberinya nilai. Akhirnya saya panggil ia untuk memperbaikinya kembali. Karena saya super penasaran, masalahnya dimana. Akhirnya saya tunggu sampai selesai, sebut saja si X, ternyata dia cukup bisa, kok. Usahanya saya beri nilai yang membuatnya tersenyum. Ketika Level II, penyakitnya kambuh. Sama. Jawabannya kesasar semua. Hanya beberapa angka. Tapi ya, yang namanya Matematika, satu angka salah bisa besar efeknya. Ya, tetap salah. Namanya juga ilmu pasti. Jawabannya kudu pasti.

Akhirnya, saya minta dia perbaiki lagi. Saya tunggu saja dia. Saya tidak banyak mengarahkan. Setelah selesai 10 soal…nyatanya dia mampu juga kok. Setelah saya renungkan, nih anak rupanya benar-benar butuh perhatian besar dan super. Masa saya tungguin bisa, pas ditinggal amburadul gitu.

Akhirnya saya pikir ini masalah mental. Ketika level naik sedikit, mental anak mulai kelihatan. Ada yang ngasal, ada yang tidak serius. Alhamdulillah masih lebih banyak yang cukup konsisten. Ya, memang namanya anak kelas 3 belum sepenuhnya paham yang namanya tanggung jawab. But, mereka perlu belajar, khan? Saya sampai bilang ke si-X ini: Nak, kamu sepertinya tadi ga’ ngitung ya?” Kepalanya cuma diangguk-anggukkan saja.

Lagi-lagi saya hanya menggeleng.

Mental. Jiwa. Satu sisi yang ternyata menjadi PR kami. PR para pembimbing macam guru dan orang tua. Kenapa? Mental memang menjadi masalah utama bangsa ini sejak dulu. Tidak habis pikir sampai banyak orang yang malah berlomba-lomba menjadi pengemis (sampai-sampai ada fatwa haram). Mengapa malah bangga menjadi orang yang tangannya di bawah daripada sebaliknya? Ini jelas masalah mental, Mental Matter. Miskin jiwanya, miskin badannya, Indonesia (belum) Raya….🙂

Nak, kalian semua harus semangat, pantang menyerah, tangguh, jantan, adil, dan jujur. Kalian adalah penerus kami. Kalian harus jauh lebih baik dari kami. Ibu pun tidak akan menyerah. Selama Ibu, masih bisa bernafas, masih bisa berjalan, Ibu slalu memberi apa yang Ibu bisa. InsyaAllah dengan KuasaNya dan Ilmu-Nya. Ingat kaan…Ibu selalu bilang di depanmu, “Ya, Allah…bimbing kami…supaya kami diberi kecerdasan dan mampu mengerjakan dan berusaha…” Kalian jawab, “Aminn.”

So, selamat tinggal mental kerupuk, selamat datang mental Baja!

by: Zubair-CT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: