Menegakkan Konsistensi Sikap pada Anak di Kelas

berdoaKonsistensi. Kedengarannya berat. Melihat dan membacanya saja ada kesan berat. Namun satu hal yang memang tidak dipungkiri terasa berat adalah bahwa menerapkan dan menegakkan konsistensi itu paling sulit di awal dan saat harus mempertahankannya. Ini kami alami di kelas.

Suatu Senin, pasca mid tes kemarin, kami memulai kelas dengan ‘genggaman’ kuat. Kelas kami tidak bisa ada celah sedikit untuk lengah. Sekali lengah…sudah… lewatlah semua!

Ya, saat itu kami memantapkan hafalan perkalian 4 dan 9. Kami harus memperlihatkan keseriusan ini mengingat betapa ‘sulitnya’ ternyata bagi sebagian besar siswa kelas kami untuk mengingatnya. Akhirnya habislah waktu 1 setengah jam untuk menghafal perkalian 9, pakai trik jari lagi. Itupun ternyata masih lupa-lupa ingat. Alhamdulillah kami men-serius-kannya!!

Lepas makan siang, kami shalat Zuhur. Kami pun tidak mau main-main! Kami beri peringatan awal bila ketahuan tertawa atau menyenggol teman sebelahnya, langsung akan kami hentikan dan mereka semua harus mengulanginya tanpa kecuali. Ini berlaku untuk rakaat pertama. Bila terjadi pada rakaat kedua hingga keempat, maka siswa yang bercanda saja yang harus mengulang, tidak semuanya. Wah…wah…wah… ternyata berhasil besar!!! Tidak ada satu pun yang melanggar! Kereenn…nnn…!! Bahkan sampai zikir dan doa pun, mereka patuh…Luar Biasaaaa…!

Tungggu dulu, itu baru hari pertama!

Hari kedua?

Waktu mengawasi mereka, ingin rasanya secara naluri fisik kami, kami ingin duduk saja. Tidak perlu berjalan-jalan mengawasi jalannya shalat zuhur. Seharian kami memang sangat all out, boleh dibilang begitu. Tapi seketika itu pula kami tersadar. Ada suara hati kami yang tiba-tiba mengingatkan.

“Hei…masa kamu mau duduk saja??!! Maksud kamu apa?”

“Kamu mau santai-santai apa? Baru kemarin kamu mencoba menerapkan disiplin dalam shalat! Masa baru sehari kamu ‘nyerah’?”

“Ayo berdiri sekarang!! Bagaimana anak-anakmu mau disiplin kalau kamunya saja baru sehari sudah ingin duduk aja?? Mikir donk!!”

“Akan jadi apa mereka kalau kamu ‘loyo’ begini? Konsistensi, lho!!”

“Kamu mau melihat anak-anak kamu ini tidak ada perubahan?? Tidak mau melihat mereka ada perbaikan apa?”

“Konsistensi lho….!! Investasi…!! Harganya mahal banget!! Lebih baik cape sekarang tapi kamu nanti senyum…”

“Ayo bangun…perlihatkan bahwa kamu konsisten pada nilai-nilai yang kamu tanam!! Jangan berhenti sampai di sini!”

Sebenarnya, baru saja saya duduk dua detik, kira-kira sepanjang itulah pikiran saya. Langsung saya berdiri seketika itu juga. Ya, Allah…ternyata begini sulitnya ya…menegakkan konsistensi kedisiplinan. Masya Allah susahnya…Rasulullah…pun pasti demikian…namun beliau sangat sempurna.

Biarlah rasa lelah ini kami rasa. Tidak apa. Toh…ini kan bagian perjuangan kami…

Kami bisa bayangkan bagaimana sulitnya di rumah menegakkan aturan. Malah mungkin karena ketidakkonsistenan kita sendiri yang menyebabkan anak sulit melihat yang seharusnya. Bagaimana anak akan konsisten seperti yang kita harapkan sementara kita sendiri sedikit ingat banyak lupa?

Jadi kemana larinya konsistensi itu? Bayangkan doa. Doa saja perlu konsistensi. Disiplin butuh konsistensi. Segala hal dalam hidup memang harus konsisten. Apalagi kami yang notabene guru. Bagaimana tidak? Konsistensi itu memang harus ada. Memang keras, namun bukan berarti tidak bisa. Bukankah Islam hadir hingga ke hati kita karena konsistensi Rasul dan para sahabatnya? Ya, Allah… betapa kecilnya kami ini.

Kata Pak Mario Teguh, bagaimana kita bisa meminta konsistensi orang lain bila kita sendiri tidak bertanya, sudah pantaskah saya memperolehnya? Apakah kita sendiri sudah memantaskan diri untuk harga sebuah konsistensi? Pak Mario pesan…setialah pada nilai kebenaran…lalu lihatlah apa yang terjadi.

Bismillah

Semoga saja kami bisa konsisten alias istiqamah dengan sikap konsistensi kami ini. Seperti lirik d’masiv : jangan menyerah, Tuhan pasti kan menunjukkan, Kebesaran dan KuasaNya, bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal putus asa.

Salam Semangat dan salam super!!

_ by tiut_Mrs.Zubair.2009

One response to this post.

  1. Posted by a.zaenuri on April 17, 2010 at 11:42 am

    konsisten apa bukan memaksakan kehandak .apa memang supaya bisa kosisten harus memaksakan kehendak.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: