Semua Ini Tentang “Bicara Dua Hati”

child_crying_1Pagi itu, hari Selasa yang cerah. Seperti biasa saya melangkahkan kaki menuju kelas tempat saya mengajar. Pengajaran pun telah saya lakukan sesuai rencana. Kisah yang akan saya share kepada anda ini bukan rekayasa. Sedikit pengalaman yang membuat diri saya sendiri begitu terbuka dalam berpikir, bertindak, dan memberi solusi konkrit dalam menyelesaikan masalah anak. Saya menyadari kalau bicara masalah anak dan masalahnya memang tidak akan pernah habis. Sampai kapanpun. Begitu rumit, luas, ruwet, menyedihkan, menggemaskan, dan lainnya, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Ujungnya bermuara kepada sebuah keinginan agar hidup anak kita menjadi sedikit saja lebih memiliki arti.

Bicara lagi tentang anak, ketika kita (dalam hal ini guru) menyadari ada masalah berat pada sang anak, kita bisa memilih. Mau cuek, mau bingung, mau diselesaikan, mau dimarahi, mau ditekan, atau apa saja. Cenderung orang pasti memilih ingin menyelesaikan masalahnya. Tapi biasanya karena tahu resikonya berat kalau harus menyelesaikan masalah bisa saja kita (guruatau orang tua) memilih pasrah atau bingung harus bagaimana.

Bingung sejenak saya pikir tidak masalah. Namun yang terbaik dan terpenting adalah dalam masa itu kita membantu anak mencarikan jalan keluar (mungkin yang lebih tepat arah). Setelah itu biar sang anak yang berdiri dan berjalan menyusurinya. Termasuk setelah berbilang hampir dua setengah tahun saya mengenal anak-anak kami di sekolah ini, banyak hal yang saya kenang karena berurusan dengan mereka.

Pagi ini juga saya memanggil seorang anak (tidak perlu saya sebutkan namanya). Ini kali kedua saya memanggilnya dan mengajaknya bicara empat mata. Kali pertama boleh dibilang gagal, belum berhasil. Alias tidak mempan. Saya memang menangkap ada masalah dalam dirinya. Sejak kelas 1, anak ini boleh dibilang made in-nya sekolah. Karena sejak awal ia belum bisa membaca. Alhamdulillah berkat bimbingan gurunya, akhirnya ia bisa membaca, lancar pula.

Pada kali kedua saya memanggilnya, saya ajak bicara. Sebenarnya saat itu saya sedang dalam keadaan bertugas. Setelah memberikan penjelasan dan latihan singkat, saya secara spontan memintanya berada di dekat saya. Saya katakan bahwa saya ingin bicara.

Ia mengangguk. Kira-kira, begini dialog yang terjadi:

“Kak, serius nih ibu mau bicara sama kamu. Sekarang Kakak dengarkan aja dan tidak perlu bicara sampai ibu minta.”

“Ibu terus terang bingung sama kamu, Kak. Berkali-kali ibu minta kamu datang ke kelas yang ibu bilang untuk belajar tapi sebanyak itu juga kamu tidak pernah datang.”

“Ibu tuh bingung, maunya kamu apaan sih?”

“Kamu tahu, Kak? Nih, dengar baik-baik. Ibu mau kasih tahu kamu sesuatu tapi hanya kamu yang tahu, Kak.”

“Dari dua kelas ‘X’ ini…hanya kamu yang lupa menulis halus!! Kamu sadar gak?”

Saya melihat kedua bola matanya yang lugu mulai menyorot tanda ia mulai menyadari maksud saya.

“Kamu pikir ibu senang, Nak?”

“Kalau ibu mau bikin kamu tambah masa bodoh bisa aja. Ngapain juga ibu ngurusin kamu sampai begini, Kak?”

“Mau sampai kapan kamu begini? Nih, ibu mau bilang sesuatu. Kamu catat ini. Kalau kamu bertahan mau begini terus…oke…ibu cuma punya 1 jawaban buat kamu.”

“…selamat datang di kelas 1 lagi, ya!!”

“Kalau kamu maunya gini-gini aja, ya udah. Ibu nanti bilang sama guru kelas 1 atau guru TK kamu ya… biar sediain 1 kursi tahun depan buat kamu. Biar ibu bisa masa bodoh kalau begini caranya!”

“Biarin ibu ntar ngomong sama guru TK kamu, sama guru kelas 1 supaya mulai besok kamu duduk aja balik ke TK atau kelas 1. Main aja yang puas kayak anak TK…ga usah nulis ga usah ngitung….dah…gitu aja selesai…main aja yang puas! Ya…begitu aja ya…”

Kalimat ini saya ulang-ulang terus berkali-kali, sampai saya yakin dia ‘menelan’ maksud saya. Dari sorot matanya, saya makin melihat seperti ada penyesalan dan ketakutan karena dia tidak mau kembali ke TK atau kelas 1 lagi. Memang saya sedikit ‘menggertak’nya. Perlu anda ketahui, orang tuanya telah menemui saya meminta tolong untuk menangani anaknya. Saya bisa maklumi karena latar belakang dan kondisi keluarganya yang saya ketahui. Bahkan tentang kondisi ibunya pun saya bisa membayangkan bagaimana kondisi jiwa dan sikap serta motivasi si anak. Sang ibu ini memang hanya tahu memohon anaknya untuk belajar, hanya beliau tidak tahu bagaimana caranya. Melihat semua latar belakang keluarga ini, saya memang terpanggil untuk menolongnya. Ibaratnya, seperti seorang yang mau tenggelam, lalu berteriak meminta pertolongan segera pada saya. Intinya, karena saya pernah juga ke rumahnya, melihat kondisinya, mengetahui latar belakang ibunya, akhirnya saya luluh juga untuk membantu mendampinginya. Itu masalahnya, sang ibu ingin ‘bisa’ mendampingi dan membimbingnya, tapi tidak tau caranya. Karena sang ibu ini (tersirat) memang merasa ingin anaknya lebih baik, namun tidak tahu bagaimana caranya.

Kemudian…

“Kamu tahu, Nak? Ibu kamu itu orang yang paling sayang sama kamu, Nak. Ibu kamu itu berkali-kali datang pada ibu, mau minta tolong sama saya,Kak! Kamu sadar ga? Kamu memang ga tau!”

“Ibu kamu itu adalah orang paling pertama yang membela kamu walaupun kamu dapat nilai jelek!! Apa kamu masih dikasih uang jajan dan makan?”

Ia mengangguk…kepalanya tertunduk dalam…

“Apa karena kamu begini malasnya lantas ibu kamu tidak kasih kamu makan, ha?”

Dia bilang tidak.

“Ya, enggak lah! Ibu kamu tuh masih ada, Kak. Ibu kamu tuh minta tolong sama ibu. Ibu kamu tuh kayak ngelihat kamu hampir tenggelam terus ibu kamu minta tolong sama ibu karena ibu kamu nggak bisa nolong? Kamu ngerti gak?”

“Kamu tuh baru tahu rasa kalau ibu kamu yang membela kamu meskipun kamu begini malasnya, pergi ninggalin kamu selama-lamanya. Ntar pulang kalu kamu nggak lihat ibu kamu lagi jangan nangis ya?!!”

Lagi, kedua matanya saya lihat dalam-dalam, kali ini matanya berkaca-kaca. Mulai memerah, ada rasa sepertinya anak ini sedang menahan tangis dan kesedihannya.

“Kamu baru ngerasa deh Kak, kalau kamu nggak bisa ngelihat senyum mama kamu lagi! Lihat aja pulang dari sini. Kamu juga mau ditinggalin bapak kamu, Kak?”

Dia menggeleng…

“Ibu juga punya orang tua, Kak. Makanya ibu juga sedih ngebayangin mama yang biasanya mellindungi kamu tiba-tiba pergi selama-lamanya…dan TIDAK PERNAH KEMBALI LAGI!!”

Saya ulang-ulang lagi kalimat itu. Alhasil…sepertinya dia sudah mulai sesenggukan tanda ia menahan emosi dan kesedihannya. Sebenarnya pula saya bicara sama dia mengalir aja. Tidak ada skenario mau bilang ini itu. Ketika saya bicara sama dia, saya merasakan bayangan mamanya itu ada di depan si anak ini. Saya membuatnya ia membayangkan mamanya sendiri yang bicara.

Akhirnya saya bilang padanya, “Kak…nggak apa-apa kamu keluarkan sekarang kesedihan kamu…”

Belum selesai saya bicara, tiba-tiba saja anak ini menangis kencang, akhirnya lepas juga pertahanan hatinya. Menagislah ia sejadi-jadinya. Saya elus lengannya, saya elus juga punggungnya. Saya berkata pelan…

“Kaak…

“Sekarang kamu tinggal milih aja. Mau gimana? Mau tetap begini aja? Apa mau berubah? Jangan pernah mikir walaupun kamu nangis terus ibu bakal kasihan sama kamu, Kak. Enggak! Justru ibu bilang begini karena kasihan sama kamu. Kamunya mau ga ditolong?? Orang mau ditolong kok ga mau? Kamu ibu tunggu di kelas! Kalau kamu datang sendiri, berarti kamu memilih ingin lebih baik…ingin maju. Tapi lihat Kak…bener…kalau besok kamu ga datang…lihat aja kelas TK atau kelas 1 deh, udah nunggu kamu tahun depan! Ingat Kak, ibu nggak main-main sama omongan ibu! Biar kamu ngerasain deh main sama anak kelas 1. Ntar lama-lama kamu malas gini, kesusul adik kamu. Lihat aja. Begini aja terus, Kak…seneng ibu mah…nggak perlu ngajarin kamu lagi, orang kamunya sendiri maunya main aja… Ini terakhir kalinya ibu bicara sama kamu, Kak! Ingat…kalau kamu memilih tidak menemui ibu besok…Ibu tidak akan bicara lagi sama kamu…ibu biarin aja mau kamu tambah bodoh kek…tambah ga bisa apa-apa! Orang kamu yang mau!”

Eee…nangisnya tambah keras. Subhanallah…

Akhirnya saya ajak dirinya duduk di kursinya. Dengan menunduk, ia terus menangis. Saya memang tidak meminta dia bicara. Akhirnya…saya pasrah… saya serahkan semua pada Allah. Saya telah bicara…

Mother n daughterBicara pada anak memang nggak mudah. Ketika hati sudah bicara…InsyaAllah deh…komunikasi itu terjadi. Memang ia tidak bicara apapun pada saya karena memang demikian adanya. Namun hati kami yang bicara. Saya bersuara hanya dia tidak. Tapi dia menyimak kata-kata saya. Alhamdulillah… pulangnya dia menemui saya…saya berterima kasih padanya. Tapi saya uji lagi kemauannya tidka sampai di sini. Saya minta dia bertemu saya esok lagi di tempat yang sama, kalau ia tak datang, ya sudah…TK masih menunggu. Saya memberikan pesan yang saya usahakan jelas ia terima. Karena saya ingin dia paham bahwa dia harus punya kemauan dan mau bekerja sama. Itulah mengapa pesan saya saya ulang terus agar ia jelas dengan sikap dan maksud saya.

Konsistensi itu memang sulit, namun dengan berjalannya waktu semoga kemauannya terpelihara. Keadaan setiap pribadi anak berbeda. Maka boleh jadi penyikapan kita pun dan caranya juga berbeda. Makanya dibutuhkan uji coba dan pantang menyerah. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: