Mabit Lagi, Yuuukk…!! :)

upin ipin1Suatu sore menjelang malam, sekitar pukul 17.30-an, saya baru saja tiba di sekolah kami. Saya terjebak macet karena motor melewati bypass. Habislah sudah waktu di jalan. Seharusnya bisa lebih awal 15 menit. Tapi ya sudah, tak masalah. Betul…betul…betul…?? Yang penting saya sudah sampai dengan selamat. Menyesal juga tidak lebih awal, karena memang saya tidak membawa baju salin sekalian untuk acara yang akan kami kawal hingga esok harinya. Maklum, kepikiran rumah jauh tea…

Jumat, 23 Oktober 2009 yang lalu, kami telah melaksanakan kegiatan Mabit yang digawangi oleh Pak Maulid Rokhim, walikelas 4 Abdurrahman bin Auf. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih siswa lebih mandiri, walaupun sedikit, belajar mengurus keperluannya sendiri, meskipun suplai makanan dari orang tua mereka tersayang sungguh luar biasa mantap! Maklum…baru pertama kali anak tersayang mereka menginap di sekolah. Tujuan edukatif lainnya sebenarnya mendidik sisi afektif mereka. Misalnya bagaimana mereka bisa TOLERANSI dengan kebiasaan yang berbeda, keinginan yang berbeda, sikap aslinya masing-masing, suasana yang berbeda, dan lainnya. Pesertanya adalah hanya kelas 4.

Acara diawali dengan apel sore yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah dan Wakil, dan tentu saja Kipernya, Pak Maulid. Setelah pengarahan di lapangan, peserta kelas 4 ini mempersiapkan shalat maghrib berjamaah. Kemudian, mereka semua tadarus bersama hingga Isya. Acara tadarus ini dibuat per halaqah (kelompok kecil) dengan masing-masing dibimbing oleh Miss Ira, Bu Thia, Pak Etto,dan Pak Maulid.

Lanjut setelah Isya, kami semua rupanya kelaparan. Maklum, biasanya maghrib atau sebelum maghrib, mereka sudah makan. Ya, kebiasaan waktu makan juga berbeda-beda, namun kali ini mereka berusaha benar bersabar. Saking kelaparannya, ada seorang siswa akhwat yang curi-curi waktu memakan roti manis bekalnya. Kontan saja, kami tersenyum melihat tingkah polah mereka. Belum lagi baru kali ini mereka mengaji selama itu…katanya biasanya nonton TV… Belum lagi acara makan yang hanya diberi waktu netto sebanyak 15 menit saja! Katanya BIAR TAHU DISIPLIN sekalian!

Usai makan malam, Pak Dikdik mulai beraksi. Peserta mengikuti jalannya acara dengan tertib, Alhamdulillah. Nah, ini dia acara yang ditunggu-tunggu.  Aksi Pak Etto dengan sedikit permainan kelompok dan kerjasama rupa-rupanya luar biasa excited alias menarik. Wah, kalau ada yang tidak ikut, rugi dah. Bermain kelompok meneruskan mencari angka, kemudian dilanjutkan di luar ruangan permainan mengangkat gelas dengan tali. Intinya…rame abizzz…!!

Usai sedikit berpeluh ria, kami semua mempersiapkan diri untuk tidur. Sebelumnya Bu Thia memberi sedikit ‘wejangan’. Walaupun sebenarnya cukup mengantuk juga karena jarum jam telah menunjukkan pukul 22.05. Akhirnya Bu Thia memberi yang ringan-ringan saja karena pertimbangan prediksi bahwa pasti tidurnya lama.

Benar saja, peserta putri baru memejamkan mata dan benar-benar tidur pukul sebelasan lewat. Ya, namanya kebiasaan yang berbeda, ada yang ingin lampu padam, ada yang ingin tetap dinyalakan. Ribut. Sampai akhirnya karena yang ingin lampu terang hanya 2 peserta putri, saya antar saja ke ruang lain yang super terang. Sambil saya bilang begini, “Ibu nggak yakin kamu bakal tidur di sini, nggak enak lho nggak bareng teman-teman yang lain…! Lihat aja deh, ntar juga kamu pada balik, pindah!” Yang dbilangin mah senyum-senyum ragu gitu deh…kelihatan kok.

Pagi harinya? Dua peserta akhwat yang ingin tidur di tempat terang akhirnya benar pindah. Nggak betah katanya. Dasar anak-anak…baru nyadar kalau sudah merasakan. Tidak apa.

Peserta ikhwan tidak ada masalah…lancar-lancar saja.

Ketika shalat tahajud, mereka mengikuti acara Muhasabah Malam. Singkatnya, jadilah mereka menangis lepas. Sesi ini dipandu langsung oleh Bu Thia. Ya, katanya, namanya juga menyentuh dasar hati manusia. Anak-anak kan juga manusia. Hanya Bu Thia berusaha menyentuh hal terdekat dari diri seseorang. Biasanya orang yang paling kita sayangi. Ya, alhasil? Alhamdulillah, responnya cukup baik. Ya, namanya juga ikkhwan, ada saja yang nyelutuk. Bahkan ada yang usai muhasabah malah balik tanya, “Ngapain sih pada nangis?” Bang Habib ini memang lucu! Polos!

Shalat subuh usai, kami semua mengikuti senam bersama Pak Etto. Asyik juga karena jarang kita semua ikut senam. Lalu peserta lari seputar blok komplek, kemudian makan kacang hijau deh. Baru apel perpisahan dan semua mulai mengepak barang-barang bawaan. Ya, namanya juga anak-anak, ada saja yang tertinggal. Akhirnya semua dapat mengikuti dengan baik dan menyenangkan. Semoga saja acara ini jadi sesuatu yang dirindukan semua. Amin.

REFLECTION

Menurut Pak Maulid, acara ini butuh perbaikan. Hal-hal yang dianggap perlu diangkat untuk dievaluasi adalah:

  1. Masih adanya beberapa orang tua yang berada di sekitar areal mabit. Bukannya tidak boleh sama sekali, sama sekali bukan meniadakan peran mereka. Namun demi kelangsungan dan tercapainya target kemandirian dan keberanian dan kemantapan mental mereka, setidaknya peserta tidak perlu ditunggui. Meskipun kedatangan mereka adalah untuk mengantar makanan. Bagi para orang tua terhormat, ini kami lakukan karena kami memiliki program yang sistematis yang membutuhkan kerjasama. Peran Anda sungguh benar tak tergantikan. Kami hanya berusaha membuat acara dengan total. Karena yang pasti adalah bahwa setiap mata acara dan cara kami (panitia) memperlakukan mereka adalah karena kami punya tujuan khusus. Apalagi bagi peserta ikhwan yang kadang menganggap enteng sebuah aturan dan kesepakatan yang telah dibuat. Jadi tidak ada toleransi bagi yang melanggar aturan. Yang ada adalah konsekuensi. Karena mereka dididik untuk mulai terus sadar bahwa setiap tindakan yang kita buat itu ada konsekuensinya. Dan ini butuh konsistensi. Kalau hanya diterapkan di sekolah, tanpa kesadaran membawanya ke rumah? Ya, sudah pasti ‘menguap’ lagi.
  2. Masalah makanan yang beraneka ragam, kemungkinan akan disamakan agar ada kebersamaan. Misalnya bagaimana rasanya memberikan dan mendahulukan saudaranya bila makan dalam satu wadah. Seru lho! Memang tidak masalah makanan berbeda, namun terkadang suatu tujuan butuh direkayasa. Karena setiap cara ada maksudnya. Itulah fungsinya sebuah acara.
  3. Bahkan ada keinginan bila mabit dilaksanakan di tempat kemping. Wah! Mantap itu…!!

Semoga bermanfaat!

Salam Persahabatan!

by: tiut_zubair CT for all

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: