Aku Butuh Ayah & Bunda!

by: Tiut

Sabtu, 19 Desember lalu, sekolah kami mengadakan perhelatan biasa akhir tahun atau pertengahan tahun ajaran, di semester 1, tepatnya. Apalagi kalau bukan pembagian rapot, hasil belajar. Kalau sudah waktunya pembagian rapot begini, sebenarnya adalah momen yang paling, sangat, amat berharga. Ibaratnya pertemuan yang sakral antara orang tua dan guru. Bagaimana tidak, pertemuan yang sekali-sekalinya ini dalam 6 bulan adalah wujud kepedulian dan perhatian orang tuanya kepada buah hati tercinta.

Memang tidak semua orang tua tidak pernah bertemu dengan guru kelas anaknya. Namun jika pun bertemu, kebanyakan sekedar mengantarkan anaknya atau menjemputnya, atau sesekali bertanya urusan katering, pensil atau tempat pensil yang hilang, atau lainnya.

Sebenarnya sangat jarang orang tua yang berinisiatif menelepon atau membuat janji pertemuan dengan guru untuk membicarakan progres atau masalah atau hambatan yang kerap ditemui para orang tua. Paling-paling dari 23 siswa di Zubair, misalnya, paling yang sangat aktif menanyakan keadaan dan progres anaknya hanya 2-4 orang saja. Sisanya? Sepertinya mereka mempercayakan urusan pendidikan sepenuhnya pada sekolah. It’s ok. Berarti mereka percaya, InsyaAllah. Meskipun ada saja yang malahbertanya, “Kok saya tidak pernah dipanggil, padahal menurut saya anak bermasalah.

Dear Bunda, padahal prinsip kami, bila kami bisa menyelesaikan masalah dengan siswa saja itu sudah cukup, kecuali bila memang sangat diperlukan. Jadi tenanglah Bunda. Kita juga harus memperhatikan, masalah anak ini sebenarnya dibawa dari rumah ke sekolah atau sekolah ke rumah?

Ada beberapa catatan yang tidak bisa kami tepis sejak berurusan dengan orang tua siswa kami. Apa saja catatan akhir tahun berkaitan dengan pandangan dan sikap orang tua tentang buah hatinya sendiri. Hal-hal berikut ini semoga bisa menjadi titik balik kita semua.

Kepercayaan (trust)

Hampir kebanyakan orang tua hampir pupus rasa percayanya kepada buah hatinya sendiri. Ini terdengar dari ungkapan mereka yang bernada pesimis ketika mereka melihat ‘nilai’. Padahal ini kepada anak mereka sendiri. Memang mungkin mereka tidak menyadarinya. Namun gelagat ini tentunya, dengan tanpa mengurangi rasa hormat, akan sangat mempengaruhi mental dan pikiran anak. Coba bayangkan jika anak menangkap ini, apa akhirnya? Anda bisa telaah sendiri, bila mamaku sudah meragukan aku, lalu bagaimana aku akan melangkah, Ma?

Sekali lagi, nilai menjadi kata kunci mati bagi anak. Anak hanya dillihat dari nilai yang cuma kisaran 1-9. Angkanya cuma itu, tapi sudah menjadi judment (penilaian akhir) bahwa anak saya ternyata pandai, ternyata masih belum bisa apa-apa, atau bahasa-bahasa lain yang sejujurnya, hal ini sangat amat disayangkan.

Mari kita berpikir sejenak saja. Bahwa betapa kerasnya usaha anak membahagiakan dan membuat mamanya tersenyum. Meskipun di mata ayah bundanya mungkin masih jauh dari harapan mereka. Memang setinggi apa sih harapan para Ayah Bunda? Setinggi apapun harapan orang tua, pertanyaannya apakah setimpal usaha yang mereka lakukan untuk mencapai harapan orang tua? Lagi, apakah ini harapan orang tua semata, ataukah anak? Memang orang tua berhak memberikan pengharapan, namun sudahkan dibagikan dengan pesan yang jelas pada anak?

Hargailah proses mereka. Itu yang penting. Sekecil apapun anak melangkah, hargai itu, karena anak melangkah maju, bukan mundur. Proses menghendaki variabel waktu. Karena itu beri mereka ruang dan waktu. Syukurilah bahwa mereka masih menangkap pesan kita. Yang penting bagi anak adalah bahwa ketika mereka jatuh, mereka yakin masih ada ayah bundanya yang mendampingi. Demikian pula bila mereka berhasil, sekecil apapun itu rayakanlah keberhasilan mereka. Pasti tanpa diminta, anak akan memberikan lebih lagi. Sehingga tidak akan ada lagi orang tua yang mengatakan, “Bu, anak saya bisa ga sih (sebenarnya)?”

Rasa Aman (safety)

Sering-seringlah mengatakan pernyataan afirmasi pada anak secara verbal atau tulisan. Anak akan dengan sangat menyerap pesan kita. Bayangkan! 90% bentukan anak sebenarnya secara tidak langsung dibentuk oleh orang dewasa di sekitarnya sewaktu kecil (dakwatuna). Pikiran, tindakan, sikap, kata, perlakuan, itulah yang selama ini membentuk mereka.

Dengan seringnya kita membuat pernyataan sikap kita (orang tua & guru) pada anak, Insya Allah anak akan merasa aman. Mereka jadi berani mengambil resiko. Artinya apa? Ketika resiko itu mereka alami lalu mereka merasa belum berhasil, apa kita malah menyudutkannya? Apa kita pada posisi yang menguatkan atau melemahkan mereka? Silahkan Anda pilih.

Bagaimana mungkin anak lebih merasa aman berada di sekolah? Kadang-kadang ada saja siswa yang tidak mau pulang ke rumah. Malah lebih memilih menghabiskan waktunya di kelas sampai sore. Katanya mendingan di sekolah saja. Mengapa anak bisa membuat opsi dan memilihnya demikian? Dipaksa pulang pun mereka bersikeras tidak mau. Katanya ingin di sekolah saja.

Anda pernah kan melihat anak-anak muda remaja yang banyak menghabiskan waktu dengan nongkrong dan main-main gitar. Apakah kebanyakan mereka melakukannya di rumahnya masing-masing? Mereka merasa lebih aman di luar rumah ketimbang di dalam rumah. Apa yang tidak mereka dapat di dalam rumah toh ternyata mereka dapatkan di luar rumah. Apapun itu namanya saya (pribadi) menyebutnya pengakuan. Itu yang mereka cari.

Dukungan (support)

Adakah yang lebih berharga daripada melihat ayah bundanya menggembirakannya dan membaikkannya saat suka dan duka anak? Coba lihat Ayahnya Ikal di Sang Pemimpi ketika anaknya merosot dalam belajar. Apa yang dilakukan Ikal? Pasti Anda semua TERSENTUH melihat Ikal mencium tangan ayahnya, tanpa kata! Luar biasa!!

Nilai-nilai negatif nampaknya lebih sering kita keluarkan kepada anak, apalagi saat emosi sudah memuncak. Tetap saja kalau sudah emosi maka itulah sifat asli orang tua akan hadir dan itulah yang dilihat dan ditiru anak. Apalagi sampai dengan mudahnya mencap atau mengatakan kata-kata yang negatif yang tidak semestinya kita ungkapkan. Kita terlalu mudah ‘hadir’  saat mereka sukses, tapi saat mereka jatuh, kita enggan menyapa, apalagi mendampinginya.

Kata-kata yang keluar dari bibir kita hakikatnya cerminan diri dan hati kita. Nilai positif dari diri kita adalah berasal dari hati nurani kita. Sebaliknya bila terlalu sering kita mengungkapkan nilai-nilai negatif, maka dari mana datangnya kalau bukan dari bisikan/was-was syetan? Sejatinya hal baik itu identik dengan kemalaikatan hati kita. Hal ini tentu berlaku dalam tatanan umum pergaulan siapa saja, bukan terbatas pada anak dan orang tua. Bagaimana mungkin kita (orang tua & guru) memberi nilai-nilai negatif padahal jelas-jelas di luar sana begitu banyak hal negatif yang siap menerkam anak kapan saja dan di mana saja, bila mereka tidak kebal atau imun? Nah, dari mana mereka mendapat imunitas?

Belum lagi begitu rumitnya anak menerima informasi dengan nilai yang berbeda. Anda mengerti? Sederhananya begini saja. Jika di sekolah mereka dibiasakan mengenakan pakaian panjang, berkerudung. Lantas ketika jalan di mal, mereka ditemui mengenakan tank-top, ketat, dan tidak berkerudung. Dari sana saja Anda bisa melihat bagaimana anak menerima dua sikap/nilai/values yang berbeda. Malah bukan itu saja, ada saja toh orang tua yang malah menyuruh anak memakaikan pakaian yang luar biasa minim bahan karena alasan lucu atau apalah, katanya masih kecil ini. Hmm…  So, bagaimana ini? Pahamilah tindakan Anda, karena kualitas masa depan anak dan kita ditentukan dari kualitas pilihan anak & kita saat ini. Lalu, di posisi manakah kita?

Optimislah!

Tidak ada yang lebih baik dari pada berpikir terus maju dan penuh asa. Sesekali kita lelah, silahkan istirahat. Lalu berjalan pelan dan istiqamahlah. Ini yang sulit. Setelah konsisten, maka kuncinya sabar. Sabarlah pada setiap kekurangan dan kelebihan anak dan diri kita. Selanjutnya tawakal, yakin bahwa kita tidak sendiri, ada Allah di sisi kita. Sudahkah kita mengatakan dan menanamkan kepada diri kita sendiri sebelum menanamkannya pada anak/anak didik kita?

Wallahu’alam.

Kudedikasikan tulisan untuk para orang tua yang sungguh LUAR BIASA mendampingi buah hatinya dalam suka dan duka mereka. They need you!

One response to this post.

  1. Posted by rina on Maret 31, 2010 at 3:02 pm

    Mau bagi-bagi cerita niih…
    Alhamdulillah anak saya ,dafi, sudah menginjak tahun ke 2 di SDIT Al Muhajirin dan Insya Allah akan tetap bertahan disini sampai selesai. Pada awal tahun ke 2 anak saya sempat drop karena situasi yang membuat dia tidak merasa nyaman di sekolah dan ingin pindah ke sekolah lain. Dia selalu nangis dan minta di temani dari pagi sampai pulang ,hal itu berlangsung kurang lebih 1 bulan lamanya. Berkat dukungan guru-guru (specially mrs Haning) n kep sekolah dan solusi yang diberikan serta dikabulkannya doa saya yang selalu saya panjatkan saat sholat malam akhirnya terjadi perubahan yang ruarrr… biasa, dia kembali ceria, malah sekarang dia bersemangat sekali ingin mendapat rangking. terima kasih ya bu/pak guru……………………..
    u/ bu tia (kalau nanti masih jadi wali kelas 3), ada pesanan dari dafi nih bu…..dia minta nanti wali kelasnya ibu tia…..di tampung y bu
    nb : pak syaf. terima kasih ikan mas nya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: