“Sepucuk Cinta, Sebungkus Sayang, dan Seamplop Peduli”

Hari ini, Kamis, 11 Maret 2010, pukul 10.40, di kelas 4 Abdurrahman bin Auf. Kejutan kecil memang menanti saya siang itu. Setibanya saya masuk ke kelas yang ‘hangat’ itu, saya langsung didudukkan di sebuah kursi di depan kelas. Hampir mirip keadaan saya saat itu disandera. Mata saya ditutup, dan tiba-tiba ada bungkusan agak besar diletakkan di atas pangkuan saya. Saya diminta membuka mata dan akhirnya ada beberapa buah jeruk yang manis dan besar-besar. Ada juga sepucuk surat dan seamplop rasa peduli mereka pada ayah saya yang saat ini sedang pemulihan akibat kecelakaan hingga menyebabkan kaki beliau patah.

Saya diminta membaca sendiri sepucuk cinta. Ditandatangani langsung oleh Walikelas (sayang tidak ada fotonya), Ketua Kelas (si keren disudut kiri atas), dan Sekretarisnya (si cantik di sudut kanan bawah). Sungguh menyentuh hati saya. Tidak pernah seperti ini, rasanya kelas ini selalu saya kangeni. Lebih karena rasa sayang saya pada mereka. Bagaimana tidak? Saya pernah menjadi walikelas mereka waktu di kelas 2 Ali. Bagaimanapun, saya mereka pernah menjadi bagian hidup saya, pun sebaliknya.

Kelas ini memang sangat SPECIAL ONE. Rasa kepedulian mereka sungguh LUAR BIASA. Semua ini memang karena beberapa anak yang luar biasanya memotivasi teman-temannya yang lain. Saya memang bukan walikelas mereka lagi. Namun kenangan bersama mereka adalah hal yang sungguh sangat tak tergantikan. Mereka adalah generasi Assabiqunal Awwalun-nya SDIT Al Muhajirin. Mungkin jika saya yang ditinggal mereka kelak jika kelas VI usai, atau saya yang meninggalkan mereka sewaktu-waktu, sayalah ibu guru yang paling sediiiihhh… Saya hanya tidak menyangka saja bahwa mereka sungguh memiliki “bibit” Character Building” yang Subhanallah…

Terbayang saya wajah-wajah mereka, apalagi kalau saya ingat Erisa. Gadis yang kata temannya ini tomboy, ternyata bisa juga memiliki kepedulian yang menyentuh, ia ikut ambil bagian intinya. Wah, saya salut dengan Pak Maulid. Beliau memang keras, tegas, namun kena hakikatnya pada hati mereka. Saya melihat Kami (guru) dan mereka (siswa Auf khususnya) saling mempelajari diri. Saya belajar artinya sabar, mereka pun belajar arti bahwa gurunya ini sangatlah peduli pada mereka.

Apapun yang terjadi nanti, bagi saya adalah bisa menjadi bagian hidup mereka adalah sesuatu yang sangat berharga. Karena mereka hidup di masa depan. Dan masa depan itu sangat tergantung pada bagaimana pilihan sikap kita hari ini. Insya Allah, seyakin saya pada Kuasa Allah, mereka akan jadi manusia yang sukses dunia akhirat, amin… Hanya itu Nak, yang bisa Ibu oanjatkan untuk kalian semua.

2 responses to this post.

  1. Posted by Yayan Rosmayani on Maret 22, 2010 at 4:36 am

    Assalamulaikum…

    Wah… saya jadi terharu membacanya……sungguh luar biasa siswa sdit almuhajirin atas kepeduliannya…. ini semua berkat bimbingan guru2 di sekolah tentunya… saya berharap siswa2
    sdit almuhajirin semuanya menjadi seorang yg sukses dalam semua hal…. di masa depan.Amin… Putri saya InsyaAllah akan bergabung di sekolah ini
    Semoga putri tercinta saya bisa mengikuti pendidikan di sekolah ini dengan baik….

    Salam kenal dari saya & Putri saya Calon siswa baru 2010 sdit almuhajirin

    Mama Alya Afifah Sehan

    Balas

  2. Subhanallah……..rasa peduli itu berawal dari hati mereka yang ku anggap seorang anak, akan tetapi jiwanya seorang muslim yang berkepribadian alif baina muslimin,saya juga cukup salut dengan kerjasama yang cukup disiplin dan komitmen ….ya walaupun kadang kala yang namanya anak, kadang masih suka kekanak kanakan ……… semoga bukan hanya sekedar materi yang kita sampaikan akan tetapi pesan dari pelajaran dapat di praktekan dalam keseharian.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: