21042010 ini Bermakna bagi Kami!

Bahagianya Kami untuk Masa Depan Perempuan Terbaik Indonesia

Bahagianya Masa Depan Perempuan Terbaik Indonesiaku!

Senin, 19 April lalu, tepat menjelang kepulangan kami semua di kelas Zubair, kami bersepakat untuk membuat sesuatu yang berbeda, kecil, namun insyaAllah pernuh makna. Paling tidak bagi kami yang berharap sesuatu itu menjadi baru dan selalu baru di hati kami.

Kami bermusyawarah tentang pakaian kami dalam rangka mengingat Hari Kartini dan mengamalkan bentuk kecintaan ‘kecil’ yang baru bermula ini kepada negeri kami, Indonesia. Ceritanya, kami akan memakai pakaian khas Indonesia pada umumnya. Apalagi kalau bukan kebaya dan batik. Nah, senangnya adalah bahwa kami semua menyambut usul Bu Guru kami dengan senang. Siswa putri memakai pakaian semi kebaya modern dan siswa putra memakai kemeja batik.

Kami juga menyepakati bahwa kami memakai pakaian tersebut hingga kepulangan kami hingga pukul 14.00. Karena kami juga telah mengatur agar pakaian yang akan kami kenakan nanti tidak terlalu ribet, demikian pula kerudungnya, karena Bu Guru kami menyampaikan bahwa kita tetap akan belajar seperti biasa.

Akhirnya hari ini, 21 April 2010, tibalah hari yang kami nanti. Alhamdulillah, kami semua mengenakan pakaian kebaya sederhana khas Indonesia. Kata Bu Guru, paling tidak kami berusaha menampilkan bentuk kecil kecintaan kepada tanah air Indonesia. Seburuk apapun Indonesia, kami lahir di sini. Kata Bu Guru, kita harus yakin bahwa masih banyak orang baik yang mau berbuat baik untuk sesama dan untuk Indonesia, contohnya R.A. Kartini ini. Makanya kami senang melakukannya. InsyaAllah kami ikhlas.

Tampannya Anak-anak Indonesia ini! Batiknya indah, kan?

Lucunya, setelah sampai di sekolah, ketika di kelas, kami memang kepanasan alias gerah. Kami bilang ke Bu Guru. Bu Guru bilang, kita kan sudah sepakat untuk memakainya hingga pulang sekolah. Jadi keputusan apapun harus kami laksanakan karena kami sudah menyetujuinya kemarin. Jadi, kami tidak bisa bilang apa-apa lagi. Kami harus menjalaninya. Karena Bu Guru kami, Bu Thia dan Bu Byah juga memakai kebaya hingga sekolah pulang.

Subhanallah...cantiknyaaa....!

Alhamdulillah, waktu kami bilang gerahnya kami ke Bu Thia dan Bu Byah, Bu Guru bilang kami harus sabar. Tapi Bu Thia juga memudahkan kami dengan mengenakan kerudung yang tidak ribet dan rok yang tidak ribet juga. Pokoknya Bu Thia dan Bu Byah bikin kami tidak merasa malu dan cape mengenakan pakaian ini. Lagian kan tidak setiap hari kami begini. Jadi kami senang saja melakukannya. Alhamdulillah, kami semua bahkan shalat bergerah-gerah dengan AC yang sering mati, namun setelah itu, Bu Byah dengan semangat menyemangati kami dengan mendandani kami supaya kami tetap cantik dan segar. Hehehe….soalnya kata Bu Thia, kami akan difoto di web cam-nya Bu Thia. Walhasil, kami saling bantu. Bu Byah me-make-up kami, Bu Thia menyiapkan kamera sambil membedaki wajah kami dengan tipis. Tapi karena kami belum pernah didandani macam ini, kami merasa medok banget. Tapi ya enggak juga sih, soalnya Bu Thia membedaki kami dengan secukupnya. Hasilnya cantik bangeeettt….🙂

Kami Bangga Jadi Anak Indonesia!

Siang hari ini memang panas. Keringat kami meleleh di wajah dan punggung kami, namun tidka menyurutkan semangat 45 kami untuk difoto. Ya, jarang-jarang juga kan ada foto gratis. Kata Bu Thia, kami harus belajar mencintai Indonesia, dimulai dari mengenal ciri khas bangsa Indonesia. Begitu katanya. Kami juga Alhamdulillah memakai batik ini dengan bangga. Lucu-lucu kan? Seharian kami belajar dengan kemeja batik ini. Kami senang saja. Jarang kan suasananya seperti ini.

Simbol dan Makna, Bagai Kepingan Logam, Jangan Dipisahkan

Sebenarnya bukan ‘sekedar’ karena 21 April kami memakai kebaya dan batik. Bukan pula karena kami tidak mengerti arti memakai batik dan kebaya, karena kami memang belum tahu dan mengerti maknanya. Kami memang masih kecil, dan karena kami belum tahu, kami bersekolah, dan kami justru ingin tahu bagaimana sejarahnya Ibu Kartini. Bu Thia bercerita pada kami semua. Ternyata Ibu Kartini cerdas, hebat. Meskipun kami peru mengenalnya sedikit demi sedikit. Setidaknya kami pernah tahu itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Makna dan Semangat Maju Perempuan karena Kami Memillihnya!

Simbol dan Makna Harus Sejalan

Sebenarnya anak-anak butuh momen. Hal-hal seperti ini menjadi kenangan yang akan mereka simpan selamanya. Dalam perjalanannya, kita memang perlu dan harus menerangkan, memahamkan makna apapun, tak hanya Kartini.

Shalat misalnya. Kalau bicara simbol, apa artinya gerakan shalat? Lalu apa artinya masjid. Toh itu juga simbol. Nah, ketika simbol itu dikenal, apakah Muhammad meninggalkan makna? TIDAK! Makna memang lebih penting dari ‘sekedar’ simbol. Tulisan Laa Ilaa ha Illallah, juga simbol dalam perang jihad. Secara visual, simbol diperlukan untuk menguatkan ‘pandangan’. Apakah ketika makna shalat menjadi nomor satu lantas simbol masjid sebagai tempat ibadah jadi dihilangkan hanya karena makna jauh lebih penting dari simbol? Artinya, kita jangan dibuat memilih mana yang lebih penting. Makna harus kita tanamkan seiring berjalannya waktu, dan biarkan simbol itu tetap melekat, karena bagaimanapun simbol tidak bisa lepas. Memang apa artinya simbol? Coba pikirkan ini. Ketika laptop kita memiliki simbol/merk tertentu, sejujurnya, apa yang Anda pikirkan dan rasakan? Bagaimana orang lain melihatnya? Begini, kalau kita punya merek HP terbaru, bagaimana rasanya kita memilikinya, melihat simbolnya? Bagaimana pula dengan simbol LOVE? Kalau memang sekedar simbol, mengapa simbol LOVE itu terasa abadi? Melihatnya saja seperti memiliki arti berjuta makna? So, mudahkanlah segala urusan dan berpikirlah sederhana sesuai konteksnya, apalagi ini memahamkan anak-anak. Mereka perlu masukan yang imbang, BIJAK, dan ARIF. Kita tidak bisa menularka pemahaman hanya satu sisi, namun mereka perlu melihat kata-kata dan kebijakan pikiran kita sebelum kelak mereka belajar mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ingat, makna sampai kapanpun penting, tanpa meninggalkan keberadaan simbol. Ingat pula bahwa Allah banyak menyuruh kita membaca TANDA. Bukankah Alam ini SIMBOL SEMPURNANYA Allah??

This Is It! Kami Hanya Berusaha yang Terbaik yang Kami Mampu

Kami menyadari benar bahwa setiap momen itu penuh makna. Kami mungkin tidak melihat maknanya itu sekarang. Kami tidak tahu itu. Yang kami pahami, adalah bahwa kami hanya berusaha membuat siswa-siswi kami memahami bahwa dengan berbuat sesuatu yang berbeda dan positif, walaupun sedikit dan sederhana, akan berdampak positif pula. Bagaimana kami tidak tertegun mendengar ungkapan Vyati dan Julita yang bilang begini, “Bu, besok kita pakai beginian lagi, sih, Buu…”

Kami cuma bengong, “Haaa….masa lagi…? Udah ah,,, cuma hari ini aja. Lagian tadi katanya gerah, kok besok lagi? Besok mah pakai kaos olahraga aja.”

Vyati dan Julita dengan wajah rada kecewa merajuk supaya besok pakai kebaya lagi, jawabnya begini, “…yaaa….Ibuuu….ga papa sih Buu… enak kok…”

Ah, anak-anak. Kalian itu memang penghibur kami. Bagi kami ungkapan itu sudah cukup kami syukuri. Kami bangga pada seluruh ORANG TUA siswa yang telah mewujudkan ini semua. Tanpa Anda, kami ini bukan apa-apa juga. Terima kasih juga untuk Kepala Sekolah kami, rekan-rekan guru, serta teman-teman yang juga turut mensukseskan rencana kita bersama. Semoga kita lebih semangat memaknai hidup ini. Amin.

Salam Thia dan Byah. Woooqeehhh…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: