Tak Lagi Menulis dengan Pena, … by heart!

by: tiut_ZrCT

Suatu hari, di hari Rabu, 5 Mei 2010, saya mengajar di kelas 4 Abdurrahman bin Auf. Kali ini saya memberi kesempatan pada siswa-siswi saya untuk menuliskan sebuah karangan. Kali ini tema yang saya tawarkan adalah : “Jika Aku mempunyai banyak uang, aku akan…”

Dua bulan terakhir ini, saya memang menugaskan siswa saya untuk membawa buku khusus Diari. Niatnya InsyaAllah sampai mereka lulus mereka harus menuliskan apapun suka dan dukanya. InsyaAllah…

Tema yang sudah pernah saya berikan adalah tentang tempat yang paling ingin dikunjungi, hobi, dan terakhir yang saya sebutkan di atas.Tema ini bukan dimaksudkan untuk berandai-andai, namun saya sampaikan bahwa kata-kata yang akan kita tulis adalah doa, anggap saja demikian.

Nah, kali ini sepertinya cukup memberi tantangan imajinasi (liar) yang bisa merangsang daya pikir  mereka. Ya, mereka bisa menuliskan 7 sampai 10 kalimat saja sudah sangat baik.

Saat waktunya sudah selesai, tibalah saatnya tulisan itu dibacakan. Sayangnya memang masih ada yang belum berani. Dan ia mengatakannya terus terang. Ya…tidak mengapa juga. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, mereka akan jauh lebih berani berbagi. Karena membutuhkan energi dan keberanian luar biasa, lho untuk bisa memulai membuka dirinya apa adanya.

Sampailah saya pada seseorang yang saya tawarkan. Saya tanya apakah ia berani, ternyata jawabannya, Ya, berani. Subhanallah

Saya sengaja tidak menyebutkan namanya di sini, berikut tulisannya, karena saya belum sempat meminta izinnya agar tulisannya dimuat.

Inilah bagian yang paling mengharukan seluruh kelas. Saat ia membacakannya, belum selesai satu kalimat, ia tertahan… rupanya tenggorokannya tercekat, menahan emosi yang mendesak air matanya. Ya, Allah…Subhanallah…saya tidak menyangka saya menemukannya. Proses inilah yang paling membahagiakan seumur hidup saya. Ia terus menghapus air matanya yang berderai jatuh…mengaliri pipinya yang selama ini tak pernah saya lihat demikian tersentuh dengan apa yang ditulisnya hari ini.

Hampir tiga tahun saya mengenalnya, ia anak yang tabah. Namun menurut ibunya memang anaknya ini perhatian dengan ibu dan kondisi keluarganya. Makanya saya tidak heran melihatnya begitu emosionil saat mencoba meneruskan bacaannya.

Hebatnya lagi…

Ia masih berjuang terus ingin membacakan tulisannya, dan luar biasanya lagi, ia tidak malu, meskipun ia seorang laki-laki…dengan air mata tulusnya.

Mendengar suaranya membacakan kata demi kata…

Melihat wajahnya yang menahan tangis harunya…

Mengingatkan saya betapa dewasanya laki-laki kecil ini…

Ia membuat teman-teman sekelasnya terpana…

Mencoba memahami apa yang sedang terjadi…

Karena tidak pernah kelas seperti ini…

Terlebih melihat temannya yang satu ini menangis terharu sambil membacakannya…

Seandainya saya telah mendapatkan izinnya untuk mengutip isi tulisannya yang sederhana, Anda pun akan merasakannya, karena saya telah mendengar dan membacanya sendiri. Bagi saya (pribadi) ini adalah momen yang LUAR BIASA!! Ini harta TERBAIK saya saat ini, momen ini sungguh saat mahal harganya. Subhanallah

Laki-laki kecil ini, kembali meneruskan bacaannya hingga akhir. Sambil sesekali tangan kirinya mengusap air matanya yang jatuh…

***

Lain lagi gadis ini,

Saya mengenalnya sebagai gadis yang tertutup. Seringkali hasil pekerjaannya tidak mau dia perlihatkan pada teman-temannya. Padahal bukan salah. Ketika tulisannya telah selesai, saya menasihati semuanya bahwa tulisan kita akan menjadi berarti bila ada yang membacanya. Apa artinya tulisan orang ternama bila pembacanya tiada?

Akhirnya secara menakjubkan juga, setelah sang lelaki cilik usai membacakan kisahnya, gadis ini mengangkat tangan kanannya lurus, saya agak kaget juga melihatnya. Hanya wajahnya yang ia tutup dengan buku diarinya.

Tidak jauh berbeda dengan sang lelaki cilik, ia pun menangis berderai air mata. Tak jelas apa yang ia baca saking hatinya terbenam sendiri dengan perasaan terdalamnya. Akhirnya saya menawarkan apakah ia ingin meneruskannya atau melanjutkan lain waktu. Ia memilih menceritakan lain waktu.

Saya bangga pada mereka karena berani MENULISKAN APA YANG MEREKA YAKINI dengan segala ketulusan. Ya, mereka telah menuliskannya dengan hati, bukan sekedar dengan pena. Saya bangga pada mereka, semoga kami semua menemukan kebahagiaan yang berarti bagi orang sekitar kita yang kita cintai. InsyaAllah, amin.

One response to this post.

  1. sebuah proses belajar mengajar yang mengharukan …… seandainya saya sendiri juga mengikuti mungkin saya akan semakin tahu kalau anak -anak ternyata cukup pintar dan cerdas bukan hanya dari segi akademiknya saja …..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: